Langsung ke konten utama

180 Degree

Hai

Itu dia kelinci hutan 
Aku tidak sama sekali melihatmu dipikiranku, aku tidak menemukannya. Namun hari ini seorang anak kecil mengetuk pintu. Aku tidak membukanya, lalu aku pergi pada buku catatan, hanya sesekali sebagai ganti bahwa aku tidak bisa menemukan dirimu dan diriku. Menumpahkan darah pada catatan itu tidak dibenarkan, namun apa boleh buat ketika aku tidak sengaja membacanya. Aku sangat mengetahui itu ditujukan untuk siapa. Apakah dihutan, orang biasa memanggil nama orang lain dengan bunga? 

Mungkinkah sesekali ada kilat melintas didepan jendela? Walau aku mengerti tidak mungkin engkau datang dan melintas, tidak mungkin. Aku membutuhkan waktu untuk mengeringkan tinta, aku tidak bisa meninggalkan tulisan yang belum selesai. Berlalunya musim tidak berarti apa-apa, aku semakin tua dan semakin menyesali hal-hal yang kulalui di pondok tua dunia. Menyenangkan sekali hidup tanpa sekeranjang penyesalan? Kau bisa berlalu dan tidak pernah berat pundakmu. 

Saat semakin surut, jendela mulai terbuka, aku berdo'a agar kau dituntun pada titik paling terang dalam kehidupan. Bertemu dirimu adalah keajaiban, walau di dunia semua ini akan terdengar seperti sapuan daun kering, tidak berguna. Namun benar adanya, bahwa dari balik jendela doa-doa itu terpanjat bersama bergantinya hari, bersama semua asa yang disimpan dalam keranjang roti. Tidak sempat aku menyampaikan apapun, aku mengerti semua kebenaran yang kau dapat mengenai bunga yang kau sebut. Tidak pantas kau menyebutnya dengan bunga, sebut saja duri-nya. Apakah ada yang lebih buruk dari duri? Sebutlah. 

Pada halaman selanjutnya, semoga tidak pernah kau tulis catatan mengenai mahluk buruk seperti itu, sungguh sangat menodai buku yang kau susun. Bersihkan saja. Tulis saja halaman-halaman indah dirimu yang terus berlari. Aku takut suatu hari tidak bisa menahan diri. Meminta untuk tidak disalah pahami pun apa gunanya, angin telah berlalu. Saat aku menulis ini, langit yang menaungiku berubah menjadi gelap. Apakah ada anak lain yang membisikan hal lain? Padahal aku diam-diam, aku berlaga tidak bergeming oleh kencangnya angin dunia. Dari kejauhan aku hanya melihat tabir yang menutupi, untuk sementara bernaung disini terasa menenangkan. Maafkan aku jika kebenaran yang datang di pintumu membuatmu ingin melempar bejana. Lempar saja ke wajahku. Maafkan aku yang dahulu tidak pandai. Maafkan aku yang menuliskan caramu berlari dalam catatan, segera setelah ini kurasa selesai, aku akan menyimpannya di dapur yang tidak akan mampu siapapun menjamah. Maafkan aku untuk terakhir kalinya. Maafkan aku yang mengatasnamakan dirimu dalam puisi yang berbinar. Sudah seharusnya memang kau beranjak jauh berlayar ke hilir. Jangan pernah mengingat arus ini. Aku tidak akan sanggup menahan malu. 

Tanpa siapapun menuliskan, kau diselamatkan oleh jalan cerita yang membawamu pada kesadaran mengenai siapa aku yang kau tuliskan dengan nama bunga. Sekali lagi, aku tidak suka nama itu, cari yang lebih buruk. Itu terlalu bagus untukku. 

Jika sampai padamu apa yang kubawa ini, tolong temui aku sebentar di tepian. 

Aku hanya ingin menyanggah, atau mungkin aku akan mengubur diri, aku tidak bisa memastikan. Jika kau sampai pada cerita ini, jika kau sampai disini, ketahuilah bahwa dalam mengarungi besarnya gelombang, kekuatan kita tidak dilihat pada saat keberhasilan diraih dengan melewati derasnya, namun bagaimana kita tetap tegar pada setiap arus yang membuat kita terombang-ambing. Walaupun dihadapanmu aku tidak memiliki apapun tersisa untuk ditunjukan, aku hanya memiliki tulisan ini sebagai tanda kekuatanku. 

Bila tidak pernah kau di arahkan menuju jendela ini, aku harap Tuhan sudah membuatmu mengerti. 

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.