Ya Allah yang maha kasih, tentang keindahan yang akan aku dapat ketika pertama kali aku meng-iyakan kehidupan, izinkanlah diriku meregupnya, menyaksikannya, dalam susah dan senang, dalam liku dan lapang, dalam suka dan duka. Bawalah diriku ini pada arus yang membawaku kesana, pada hal-hal yang Engkau janjikan, pada Engkau Ya Rabb. Sampai pada saat Engkau memberikan aku kesempatan untuk menghuni duniaMu yang fana, aku yakin sepenuh hatiku bahwa Engkau melahirkanku dengan penuh cinta kasih dan sayang. Tingkatan cinta yang paling tinggi adalah Engkau dan cintaMu, tiada siapapun menyangsi hal itu. Maka Illahi, ridhoilah aku, izinkanlah aku. Ya Allah… tidakkah pantas bagiku mendebat apa yang ada dalam takdir sementara itulah yang harus aku imani, aku kecil, kerdil, dan tidak berdaya.
Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini. Salam cinta untuk Bap, we miss you a lotš¤