Ya Allah yang maha kasih, tentang keindahan yang akan aku dapat ketika pertama kali aku meng-iyakan kehidupan, izinkanlah diriku meregupnya, menyaksikannya, dalam susah dan senang, dalam liku dan lapang, dalam suka dan duka. Bawalah diriku ini pada arus yang membawaku kesana, pada hal-hal yang Engkau janjikan, pada Engkau Ya Rabb. Sampai pada saat Engkau memberikan aku kesempatan untuk menghuni duniaMu yang fana, aku yakin sepenuh hatiku bahwa Engkau melahirkanku dengan penuh cinta kasih dan sayang. Tingkatan cinta yang paling tinggi adalah Engkau dan cintaMu, tiada siapapun menyangsi hal itu. Maka Illahi, ridhoilah aku, izinkanlah aku. Ya Allah… tidakkah pantas bagiku mendebat apa yang ada dalam takdir sementara itulah yang harus aku imani, aku kecil, kerdil, dan tidak berdaya.
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.