Langsung ke konten utama

11.09

  
  Bagiku hidup ini adalah keajaiban. Sama indahnya ketika kau melihat bintang ditengah gelapnya malam. Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur, walau suatu waktu tekanan hidup yang luar biasa memilukan rasanya memberikan rasa perih yang tidak tertahankan. Seakan ingin aku akhiri saja hidup ini. Belum ditambah dengan bumbu diremehkan banyak orang, dipandang sebelah mata, orang seperti tidak percaya aku memiliki kemampuan. Itu sangat menyiksa! Tidak ada teman, tidak ada yang bisa mendengarkan apa yang ingin aku utarakan. Hanya ada aku dan bayanganku dalam cermin itu. Kami berdua saling menatap dan berkata "kuat.. kuat" sementara hujan air mata terasa menghujami kaki. Kaki yang berusaha tetap berdiri, rasanya sungguh perih. Akhirnya menangis tersedu-sedu sembari menyebut nama Tuhan. Berharap Tuhan akan mengganti setiap tetes air mata yang terjatuh. Berharap semua ini akan cepat berlalu. Saat orang-orang terlelap, aku masih duduk bersila di atap rumah memandang langit yang gelap. Cuaca dingin sudah tidak aku hiraukan. Aku berharap dan masih menunggu kabar baik yang akan dikirimkan Tuhan padaku. Fase hidup yang sungguh menyesakkan. 
  Memilih bahagia dan melupakan semua kesedihan itu adalah hal yang sangat sulit tapi aku tidak menyesalinya sedikitpun. Aku kirimkan salam cintaku untukmu kesedihanku. Kau membuat aku mengerti apa itu "jangan menyerah". Kau membuat aku semakin menghargai apa yang aku miliki. Sesak yang kau berikan membuatku belajar apa itu lapang dada. Aku tinggalkan kau disini, cukup sampai disini. Kau hanyalah masa lalu. Kau hanyalah jalan Tuhan untuk menjadikanku wanita tangguh. Kesedihan, kegelapan, atau apapun itu, kuucapkan selamat tinggal untukmu. 
  Bukankah setiap cerita dari kehidupan adalah ajaib? Setiap orang memiliki ceritanya masing-masing. Tidak benar jika mengatakan hal buruk kepada seseorang tanpa mengetahui apa yang terjadi pada hidupnya dan aku sangat berayukur dilahirkan seperti ini. Dilahirkan sebagai apa adanya aku saat ini. Dilahirkan dengan jalan hidup yang tidak mudah namun membuatku kuat. Membunuh diri memang membuat semua terlihat selesai. Tapi ingat itu hanya 'terlihat' selesai. Untukmu yang tengah berjuang melawan kesedihan, teruslah kuat. Kau pasti bisa. 

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.