Langsung ke konten utama

At 4 am


From August 2016

  Kau yang masih terlelap dalam tidurmu. Kau yang masih terbuai indahnya mimpi. Kau dengar suara itu? Seruan sudah datang, berarti ini saatnya untukmu bangun, bergegas penuhi seruan itu. Saatnya bersujud memuji kebesaran-Nya. Tidak hanya menggugurkan kewajiban tapi bukti cinta pada Sang Pencipta. 
 Lihatlah baik-baik ruang disekitarmu. Rasakan kenikmatan yang hanya bisa kau rasakan saat ini,hanya ada saat ini, hanya ada ditempat kau berada saat ini. Ditemani terang dari sinar bulan. Indah melihatnya dipermukaan air. Terang dan damai. Untukmu yang ingin merenung, suasana ini sangat cocok. Maka bangunlah, tidur memang nikmat dan syukuri kenikmatan itu dengan bangun bersujud memuji kekuasan-Nya.
  Hari ini, kembali ku mengingat memori satu tahun lalu. Saat itu sangat rapuh dan aku duduk diam ditengah kegelapan. Hari itu aku menulis diriku yang kesepian. Teman yang biasa menemaniku aku titipkan pada temanku yang ingin memulai hidup barunya, memulai untuk mengejar cita-citanya. Si buku biru itu aku berikan untuk menemaninya diwaktu sulit ketika pertama merantau ke kota orang dan tak ada teman satupun, mungkin buku biru itu berguna karena sebagian isi hatiku ada didalamnya. Sekarang aku tidak yakin itu masih berguna karena begitulah perputaran hidup. Saat itu aku mengatakan pada diriku aku rela tertinggal disini, aku rela temanku meninggalkanku, aku bahagia untukmu temanku. Walau tak bisa kubohongi diriku bahwa aku menyembunyikan air mata, aku simpan luka dan sepi itu dalam-dalam. Seharusnya tidak boleh ada luka dalam keadaan berbahagia seperti itu. Temanku akan memulai perjuangan untuk menggapai mimpinya. Semoaga kalian semua selalu terlindung dan tetaplah bahagia. Itu adalah doa pengiring kepergiannya.
  Saat-saat sulit yang menguras air mata tidak terasa sudah setahun berlalu. Temanku si buku biru itu apa kabar. Dia pasti senang dengan pemilik barunya yang bukan lagi pecundang. Selamat tinggal semua romansa. Aku akan merindukanmu sebagai teman yang tidak pernah kau kenang. Itu yang aku ucapkan hari itu. Hari ini kuucap kembali padamu aku merindukanmu. Sosok lemah ini yang berusaha berlari tanpa dibayangi luka yang memilukan, sungguh merindukanmu. 

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.