Langsung ke konten utama

Hari ini


  Bergulir seperti biasanya. Pagi yang beku. Sepertinya udara mencapai titik terendah. Tetap terdengar sayup orang melantunkan ayat Sang Pencipta. Dibelakangku, ada yang masih malu-malu menampakan cahayanya. Anginpun masih betah bersembunyi. Para penari itu tetap saja membuat pagi ini semarak. Hewan berbulu yang terbang dan sebangsanya membuat pagi ini semakin ceria. Bahkan Yang Maha Kuasa menyuguhkan kenikmatan mulai di pagi buta sampai nanti tiada hentinya. Maka apa yang harus didustakan? Hati? Apa kabar dengan hati? Bagaimana kondisinya saat ini? Sudahkah awan hitam tersibakkan dari sana?
  Jika hati masih mendung, tidak perlu khawatir karena keadaan pasti berubah. Siang berganti malam, begitu pula dengan keadaan. Hanya percaya pada kebaikan Tuhan. Tak ada satu orang pun yang mengetahui rahasia Tuhan. Cenayang? Penyihir? Semua itu omong kosong. Rasa perih yang ada dalam hati ini membuat diri ingin terus berjuang untuk keluar dali lubang hitam. Terus merangkak sampai puncak. Jadilah pribadi kuat yang mampu berdiri tegak tanpa melupakan segala kebaikan yang sudah dipelajari selama perjalanan. Semua orang mampu untuk berhasil.
  Kasih sayang Sang Pencipta datang dengan indah dan penuh kejutan bahkan air mata tidak cukup untuk mengungkapkan rasa syukur dalam hati. Waktu itu aku melihatnya. Kekuasaan Tuhan sungguh luar biasa. Aku percaya. Aku yakin. Aku semangat!

  Semoga harimu menyenangkan
  Thank you for reading:)
  

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.