Langsung ke konten utama

Catatan2

  Penderitaan salah sangka padaku dengan menganggapku teman lama yang merindukan untuk dikunjungi, dia datang silih berganti. Bahagia yang kubangun hancur lagi dan lagi. Dimana letak salahnya? Kubangun tembok kebahagiaan perlahan-lahan namun aku diyakinkan realita dan tembok itu hancur tanpa aba-aba. Ternyata bahagiaku hanya pura-pura. Keadaan bisa sangat mengerikan hanya karena masalah finansial. Hal klasik nan rumit yang membuat orang disini mengalami masalah emosional. Keadaan mengolok-olok diri dan mencekiknya perlahan. Seperti hidup akan berakhir hari ini. Akan lebih parah jika jiwamu tandus, lalu kegelapan menenggalamkan diri ini. Jiwa yang putih berubah hitam pekat. Terbelenggu dalam berbagai keterbatasan. Terasing dari kehidupan sosial. Kehilangan kepercayaan dan identitas. Kemiskinan membuat aku tertinggal. Semua itu sangatlah menyiksa. Karena bangun dari keterpurukan tidak mudah seperti gombalan motivator. 
  Anggap kisah hidup ini hanya dongeng sebelum tidur. Cinderella tetap bermimpi sang pangeran menjemput dan hidup bahagia bersama. Kisah klasik indah nan bermakna. Bukankah memang begitu cerita setiap insan kehidupan? Sesulit apapun, besok itu hanya akan menjadi sejarah yang bahkan tak pernah dikenang. Jadi untuk apa bersusah payah bergulat dengan kesulitan? Untuk apa terus menerus berteman dengan kesedihan? Kegilaan, jiwa yang berontak, amarah dalam hati karena ketidakadilan, hati ingin mengeluarkan semuanya namun mulut terpaku, semua siksaan itu lupakan! Itu hanya sampah kemarin yang harus dibuang bersamaan dengan si hina juga si picik yang bermukim di hati dan pikiran. 
  Hari ini, itu semua adalah sampah. Anggap itu adalah hadiah dari masa lalu yang sangat 'bersahabat'. Masa lalu yang mengajarkan arti hidup dan membuat diri ini mengenali Tuhan. Kututup catatan ini dengan penuh rasa syukur pada Sang Pencipta. Dinamika hidup yang penuh pasang surut. Kepedihan karena harapan yang patah dan rapuh. Mimpi tak terwujud yang terbang melayang, biarlah terbang sangat jauh. Kegelapan, kesepian, sendiri namun aku bahagia menyadari keberadaan Tuhan. Berpikir, menghayati, menikmati segala yang terjadi. Damai bersama jiwaku. Inilah hidupku. 

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.