Langsung ke konten utama

Catatan3(cinta pertama)

  Hati-hati dengan ranting kering nan penuh cagak itu, rapuh tapi bisa menusuk, akan berdarah jika lengah. Begitulah aku mengibaratkan diri ketika berada pada fase hidup yang sulit. Hari-hari diwarnai air mata berisi kepedihan. Diam dibungkam segala keterbatasan. Dunia terasa sepi, tak ada yang sudi berbagi energi denganku.
  Hari itu kulihat wajah sendu itu. Kutatap seksama, membayangkan apa yang terjadi beberapa tahun terakhir. Sempat ku membenci dan tak ingin bicara sama sekali padanya. Kuanggap dia orang yang paling bersalah. Caraku memahami apa dan siapa itu cinta pertama benar-benar rumit. Begitu banyak yang harus dilalui untuk menyadari itu semua.  Melewati bertahun-tahun penuh kesunyian. Diam tidak bertegur sapa walau berada dalam atap yang sama. Sempat ku berpikir bahwa dia adalah yang terburuk. Namun Tuhan Maha Pengasih, tak Dia biarkan aku terus menerus berada dalam kesalahpahaman. Pelan-pelan es di hati mulai mencair. Terbayang kenangan masa kecil bersamanya, indah tanpa ada penghalang yang memisahkan. Suatu malam aku berbisik pada Yang Menguasai langit dan bumi, jangan ambil dia sebelum Kau mengambilku. Ya, itu keserakahanku.
  Tersadar bahwa cinta pertama itu kau adalah hal yang sangat aku syukuri. Cinta pertamaku yang tangguh. Kau memberikan rasa sakit yang begitu dalam karena akupun mencintaimu begitu dalam. Walaupun diam, hati kita sama-sama mengetahui bahwa kita menyimpan rasa cinta yang luar biasa. Kebohongan, penghianatan, kekecewaan yang kau berikan tidak berarti apapun. Itu semua sudah tidak berlaku. Menerima dan memaafkan kesalahan rasanya sangat indah. Aku memaafkan tapi tidak berarti melupakan. Selalu kuingat itu sebagai kado terindah yang membuatku mengerti tentang cinta pertama. Aku merasa beruntung memilikimu tidak peduli apapun yang dikatakan orang lain. Tuhan mengirimku padamu orang tangguh agar aku juga bisa menjadi wanita tangguh. Sekarang ranting yang rapuh itu lenyap, ku bakar hangus tak bersisa. Terus berusaha tabah dan pasrah bersama peibadi yang lebih kuat. I'm so proud of you no matter what. Love you always, father.

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.