Langsung ke konten utama

Catatan4(teman)

  Masa lalu memberitahuku bahwa teman adalah sesuatu yang mudah menghilang. Ketika hati ini telah berkomitmen setulus hati untuk selalu bersama juga saling menjaga, hati yang lain hanyalah menganggap diri ini rival yang harus dikalahkan. Ketika hati bersyukur Tuhan mengirim hadiah dalam bentuk seorang teman, hati yang lain justru menganggap diri ini lawan yang berbahaya. Sungguh rasanya seperti dikhianati. Terlihat manis sekali padahal dalam hati tidak ingin kalah dan tertinggal sedikitpun. Mengakui keberadaan hanya ketika membutuhkan. Menengok keadaan hanya sebatas formalitas. Hanya karena hidup harus berteman, maka segala yang palsu dilakukan. Tersenyum padahal hatimu berpaling. Kenapa harus melakukan apa yang tidak ingin dilakukan? Untuk menjaga hati seseorang? Menjaga hati dengan memalsukan senyuman dan pujian yang terurai dari mulut itu? Rasanya ketulusan sudah menjadi barang langka. Jika benar saling menyayangi, mengapa kau picingkan mata ketika terjadi kesalahan? Membutakan perasaan dengan mengucap bahwa itu adalah baik, tidak menegur apalagi membenarkan. Buka mata pada sesuatu yang tak terlihat jauh dalam hati. Tertawa jika salah satu mengalami keterpurukan. Hanya percaya pada apa yang dilihat dan didengar, bukan pada perasaan. Jujur dan tulus. Hanya itu. Jika tidak suka abaikan dan jangan menyiksa hati untuk berbohong, memaksa bibir tersenyum dan akhirnya berkata yang penuh dusta. Pengabaian itu lebih dihargai daripada mengucap kepedulian yang tidak benar-benar igin dilakukan. Menghargai satu sama lain bukan berarti selalu membohongi diri sendiri. Menerima setulus hati bukan berarti merelakan hati selalu tersakiti. Teman itu ada dan abadi. Ya, dalam hati dan imajinasi. 

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.