Langsung ke konten utama

Bangun,adik sayang

  Terombang-ambing sepanjang malam gelap menakutkan. Berharap perahu segera sampai perbatasan. Berharap jiwa yang tersisa segera terselamatkan. Sunyi, sepi, mencekam. Malam yang hitam pekat. Bertahan bersama jiwa yang tergoncang. Hati itu sudah tak bisa digambarkan lagi seberapa hancur keadaannya. Semoga arus tidak picik dan menggulingkan perahu ini. Membawa apa yang bisa dibawa, bersama tenaga dan pilu yang tersisa. Teringat sanak saudara yang entah masih bernyawa atau tidak. Ketidakadilan ini benar-benar nyata. Kekejaman ini sungguh terasa. Peluk erat, bayi itu menangis ditengah hujan. Dia tau bahaya tengah mengintai dirinya. Kedinginan dan kelaparan. Dia berhasil lolos dari tembakan siang tadi. Sudahkah kau sebrangi anak sungai dengan selamat? Masihkah kau lihat mayat anak-anak mengambang disana? Hatimu itu, akankah butuh waktu lama untuk sembuh? Geram juga pilu saat sebuah visual menunjukan adik kecil tunduk bersujud pada orang berjubah, tak berambut dan memegang tongkat. Inikah kemanusiaan? Bangunlah sayangku, jangan menangis aku akan memelukmu.
  Saudaraku nan jauh disana, hadiahku untukmu saat ini hanya do'a dari hati yang terdalam, berharap keajaiban selalu datang padamu. Apa yang kau lalui dengan yang aku lalui sungguhlah jauh. Tuhan mengirim kisahmu dan membuka mata hati untuk selalu bersyukur pada-Nya, Sang Maha Pengasih. Malu menatap diri ini. Lihat di cermin itu, wanita itu, dulu ingin mengakhiri hidup. Sungguh malu padahal kau berjuang keras bertahan hidup. Kau sangat kuat. Sungguh, yang bertahan ditengah berbagai keterbatasan itu adalah kau. Hebat, kau sangat hebat. Semoga Tuhan menaungi jiwamu, memberkahimu dengan rasa aman, damai sentosa. Tuhan selalu menyertaimu sayang.

Postingan populer dari blog ini

Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...