Aku sudah disini dari kemarin. Melihat apa yang kau dapat. Kuhadiahkan kau ruang, bahagiakah? Tersiksa itu bonus. Kau bertanya bagaimana aku hidup dan bernafas tanpamu, bodoh! Bukan maksudku untuk menghantui tapi dosamu yang menghantui hatimu. Kau baru dalam hal ini sehingga kau tidak mengerti apapun. Apa yang kau kejar? Apa yang kau perjuangkan? Semoga kau tidak hancur karena itu. Bagus sekali pengorbananmu. Semangatmu membara, ambisius, dan kau tendang semua cinta. Aku tidak percaya padamu, sama sekali. Kau jual namaku dalam tujuanmu. Kau membunuh cahaya. Kau kenal aku sebagai orang yang paling jahat dan aku mengenalmu sebagai orang paling bodoh. Pergi berjalan sejauh mungkin dan tunjukan apa yang kau dapat. Setelah sampai disana, jangan kau salah mengenai ketulusan. Karena sebelumnya kulihat kau buta untuk hal itu. Kau membedakan dirimu dari mereka padahal tetap sama. Sudah kau rasakan ruangnya? Begitu luas sampai kau lupa untuk pulang. Selamat menikmati waktumu yang menyenangkan. Jika aku mengetuk imajimu, hati-hati kau sudah dikutuk untuk dosamu.
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.