Langsung ke konten utama

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya. 

Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, bisa juga menjadi kematian. Coba pikirkan, kau pikir sudah menemukan mata air dikelilingi mawar jingga ditengah ilalang yang membuatmu susah dalam pandangan, namun ternyata itulah kolam kematian. Kau mati sekali lagi karena tertipu keindahan yang ternyata racun. Kau salah memilih, hanya karena memandangnya indah. Hanya karena kau berhasil menyibak ilalang. Rasa dan karsa tidak selalu menemukan damai melalui pandangan yang hanya menjadi andalan. Kau ditipu. Coba pikirkan, ternyata kematian itu datang. Kematian yang sejati, yang membawa sukma menuju bentuk terbaiknya. Bahagiamu melebihi bertemu keindahan bertemu kekasih idaman. Kematian yang kau kira menyedihkan justru membebaskanmu dari salah paham dan penderitaan. Membawamu menuju kesejatian yang dijanjikan. Kali ini kau menuju utuh tanpa amarah. Lepas suluruh beban yang mencengkram, tidak ada ilalang yang menghalangi pandangan. Yang kau kra kematian menyedihkan ternyata membawamu pada kasih dan cinta yang kau idamkan ada dalam bejan sang kekasih. Kau ditipu. 

Lalu apa? limbung dirimu dalam derasnya arus pikir. Warna diri tetaplah sama bagaimanpun kamu menderita. Kau, tidak pernah kehilangan warna. Kau hanya butuh duduk dan sedikit menampar pipimu, bodoh bodoh bodoh. Begitu saja, sampai kau temukan jawab hakikat akan keduniaan yang sangat mencemoohmu karena kau memilihnya terlalu ingin. Cinta juga bisa berbentuk kematian dan kematian bisa berbentuk cinta. Tapi menurutku, lebih menyakitkan mati berkali-kali saat kau sedang bersama kekasih yang menawarkan cinta. Kau dapat kebersamaan tapi kau juga mati sehari tujuh kali. Seperti kau tengah disiksa akan dosa-dosa dimana penderitaan yang sudah mati bersamamu kembali hidup bersama dirimu pula. Kembali menganga, setiap saat. Kebersamaan yang kau kira akhir itu justru adalah jurang perpisahan kau dengan manis dirimu, dengan warna dirimu, dengan bunga-bunga dalam jiwamu, dengan teduh pandangmu. Yang ada hanya Kau, mayat hidup. Kau, mayat hidup. Membisu, membiru. 


dan semua ini bisa nyata atau semu.

Postingan populer dari blog ini

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.