Semakin bertambah dewasa, kesepian semakin terasa. Semakin mengerti maka semakin sakit. Apa yang dahulu dipertanyakan, sekarang aku paham, apa yang terlihat sangat bijak tetaplah menyimpan ketidaksempurnaan. Nampak sekali bahwa semua tidak mengerti arti hubungan, kejujuran, dan saling mendukung. Obsesi dan kepentingan diri sendiri begitu dalam tertanam dalam hati. Kuberikan cinta yang besar bersama keringat, darah, dan air mata namun seakan itu tak terasa. Mengapa kesalahpahaman ini terjadi? Lelah dan penyesalan sudah tidak mengubah apapun, karena seakan cara hidup seperti patung sudah menjadi syarat mutlak dan takdir yang harus dijalani. Keliru memahami maka keliru pulalah hidup ini. Kuanggap angin lalu dan tak pernah ada kesalahan berduri tajam yang nampak di depan mata, namun satu kali kesalahanku dianggapnya bencana besar yang tak termaafkan. Keadilan itu aku pelajari darimu wahai orang tua. Kalau aku bicara, kau akan berdarah. Maka menahan diri adalah hal kecil untukmu. Kutahan sampai aku yang berlumur darah. Namun peduli tetap tidak datang dan kesepian tetaplah jadi teman. Mereka bertanya kenapa rumah ini sangat dingin padahal diluar cuaca sangat cerah? Sebenarnya hati kita, bukan rumah kita.
Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini. Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍