Langsung ke konten utama

Bisikan si pilu untukku

  Semakin bertambah dewasa, kesepian semakin terasa. Semakin mengerti maka semakin sakit. Apa yang dahulu dipertanyakan, sekarang aku paham, apa yang terlihat sangat bijak tetaplah menyimpan ketidaksempurnaan. Nampak sekali bahwa semua tidak mengerti arti hubungan, kejujuran, dan saling mendukung. Obsesi dan kepentingan diri sendiri begitu dalam tertanam dalam hati. Kuberikan cinta yang besar bersama keringat, darah, dan air mata namun seakan itu tak terasa. Mengapa kesalahpahaman ini terjadi? Lelah dan penyesalan sudah tidak mengubah apapun, karena seakan cara hidup seperti patung sudah menjadi syarat mutlak dan takdir yang harus dijalani. Keliru memahami maka keliru pulalah hidup ini. Kuanggap angin lalu dan tak pernah ada kesalahan berduri tajam yang nampak di depan mata, namun satu kali kesalahanku dianggapnya bencana besar yang tak termaafkan. Keadilan itu aku pelajari darimu wahai orang tua. Kalau aku bicara, kau akan berdarah. Maka menahan diri adalah hal kecil untukmu. Kutahan sampai aku yang berlumur darah. Namun peduli tetap tidak datang dan kesepian tetaplah jadi teman. Mereka bertanya kenapa rumah ini sangat dingin padahal diluar cuaca sangat cerah? Sebenarnya hati kita, bukan rumah kita.

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan. 
 Ini adalah barisan sarang yang juga merupakan Pabrik Manusia. Di kota ini aku adalah alat dalam dua arti. Pertama, aku harus belajar dengan giat untuk menjadi alat kerja. Kedua, aku harus beruasaha keras sebagai wanita untuk menjadi organ reproduksi demi kota ini.  Sepertinya, aku gagal dalam kedua arti itu.  Makhluk Bumi Sayaka Murata, p. 45