Jadi kau ingin bahagia? Silahkan ubah pandangan terhadap beragam hal yang ada disekitar. Berhenti berpikir detail tentang kesedihan dan kegagalan, berhenti berpikir tentang seberapa kesepian diri ini, berhenti membiarkan mindset liar berlari terus menerus sepanjang hari dalam otak. Aku duduk terdiam di pagi hari menghadap jendela basah karena hujan yang tak henti, kubayangkan saat itu dia yang sedang terburu-buru menjemput ilmu, kubayangkan betapa tergesa-gesa karena hari memang sudah siang, kubayangkan dia berada diantara teman-teman 'jenius', interaksi seru dalam aktivitas yang tidak monoton. Untuk sejenak kubandingkan dengan diriku, sungguh bak langit dan bumi. Kulihat abu-abu diatasku, terus menangis seperti mengerti perasaanku. Kutatap baik-baik apa yang bisa aku tatap. Lalu kubayangkan diriku saat itu. Pagi ini aku bangun, memakai baju, aku bernafas, aku punya sarapanku, aku menikmati suguhan pagi hari Sang Pencipta,aku duduk dalam naungan yang melindungiku, betapa diberkahinya aku. Sungguh nikmat Tuhan yang tak terbatas. Cerdas bagiku bukan hanya tentang angka rumit yang berhasil dia pecahkan atau tentang seberapa banyak teori yang berhasil dia buat tapi bagaimana kau menciptakan suasana baik dalam hatimu walaupun kau sedang dalam situasi sulit nan melilit. Cintai apa yang bisa dicintai. Ketulusan itu bukan hanya sekedar memberi tapi juga menerima, apapun dan sekecil apapun. Terima saja lalu kau akan bahagia. Bahagia itu kau terima, jadi berhentilah mencari bahagia.
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.