Langsung ke konten utama

Catatan13

  Bisa kau beri aku kekuatan? Kekuatan untuk senantiasa lapang dada menerima ketentuan yang telah selesai Tuhan tuliskan untukku. Mengapa terasa begitu pilu? Dia tunjukan celanya dihadapku dan aku pantang untuk menghinanya. Lelahku padanya sungguh tak bisa kugambarkan lagi namun aku harus tetap hormat, menjunjung tinggi dirinya, meletakkan segala kepentingannya diatas kepala. Melawannya aku berdosa. Melakukan segalanya atas nama cinta. Apa daya diri yang bodoh ini. Ujian cinta, bukan tentang jarak yang memisahkan dua hati tapi bertahan tetap mencintai setulus hati dia yang menyakiti, pun dengan segenap hatinya. Yang tercinta seakan tidak mencinta. Semakin terasa menguras hati ketika pemain drama ini adalah dia, belahan jiwamu. Tidakkah Tuhan mengirimku pada orang yang lebih baik daripadanya? Tidak! Inilah ketentuannya! Beri aku kekuatan untuk tidak membenci.

Postingan populer dari blog ini

Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...