Bisa kau beri aku kekuatan? Kekuatan untuk senantiasa lapang dada menerima ketentuan yang telah selesai Tuhan tuliskan untukku. Mengapa terasa begitu pilu? Dia tunjukan celanya dihadapku dan aku pantang untuk menghinanya. Lelahku padanya sungguh tak bisa kugambarkan lagi namun aku harus tetap hormat, menjunjung tinggi dirinya, meletakkan segala kepentingannya diatas kepala. Melawannya aku berdosa. Melakukan segalanya atas nama cinta. Apa daya diri yang bodoh ini. Ujian cinta, bukan tentang jarak yang memisahkan dua hati tapi bertahan tetap mencintai setulus hati dia yang menyakiti, pun dengan segenap hatinya. Yang tercinta seakan tidak mencinta. Semakin terasa menguras hati ketika pemain drama ini adalah dia, belahan jiwamu. Tidakkah Tuhan mengirimku pada orang yang lebih baik daripadanya? Tidak! Inilah ketentuannya! Beri aku kekuatan untuk tidak membenci.
Memoar puan menawan sejagad pikiran sudah terbit kembali