Dipeganglah tangannya saat ia ingin terjun ke jurang, kubujuk sampai lengan ini pun berdarah, mengira bahwa omongku masuk ke hatinya ternyata dia mengolok-olok si rendahan ini. Susah payah diri ini meyakinkan kegelapan pergi dari hati. Aku muak dengan 666. Dia mencintainya, aku kira memujanya. Sungguh dia jadikan itu sesuatu yang menarik, selalu dibicarakan, selalu dijadikan jalan terakhir untuk pulang. Mengeluh tentang masa lalu dan dia senang berada di tepi jurang. Bermain-main disana untuk menarik perhatian. Dia pikir dia siapa? Tidakkah ia tahu apa yang aku pikirkan tentangnya? Picik! Sungguh dia seperti itu. Saat aku yang berada di tepi jurang, dia berkata aku selalu memegang tanganmu, kemudian berlalu. Meninggalkan rapuh dalam diriku. Pergi untuk mengejar sesuatu, sesuatu yang dia bilang untukku. Kalau aku benar-benar tenggelam, apa yang dia kejar itu masih berlaku? Kupikir orang akan melakukan yang sama, namun tidak demikian. Betapa dia tak kan mengetahui sulit dan sakitnya berpegangan dengan satu tangan, sedang tangan kananku sudah dia buat terluka. Mengertilah sekarang mengapa kau tak boleh berharap pada manusia. Mungkin Tuhan mencemburui hati keji ini yang sudah salah memilih. Akhirnya, dilepaslah dia bersama seluruh miliknya. Cintanya, kata-katanya, janji manisnya, diserahkan semua kembali padanya. Kulepas pegangan ku pada tali hidupnya dan biar dia mengejar apa yang menjadi ambisi. Bicara soal sakit hati, aku benci mendengar itu dari mulutnya.
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.