Wajah gelap menyinari hari. Tekuk suram tak tersungging berdiri lemas diambang pintu. Harus masuk? Atau keluar? Simalakama. Kutatap pilu dia yang pilu. Kau pikir kenapa yang gelap bisa bersinar? Itulah keajaiban. Kebaikan itu disematkan melalui cara yang luar biasa sakit. Aku pun berdiri diambang pintu. Langit ikut menangis untukku dari pagi buta. Berharap sinar terang benar-benar menyinari. Tidakkah terpikir oleh bapak saat membangun cinta biadab bersama anjing betina maka kau juga membangun tembok kemelaratan untuk kami semua? Apa daya sekarang kami terkurung dan tak berdaya. Harus menyalahkanmu? Tidak! Karena maaf seharusnya menjadi hal yang paling kau syukuri. Kuberikan secara percuma. Aku tidak pergi, tetap diam menikmati perjalanan. Masa lalu memberikan banyak hadiah. Puing-puingnya sangat menyusahkan! Bukan maksud meratapi, hanya sulit melupakan. Bagaimana tidak, kau taruh itu di atas kepalaku, kau suruh aku memeluknya bersama tidurku.
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.