Langsung ke konten utama

Catatan21

  Seseorang yang memilih bunuh diri sebagai pilihan terakhir itu sangatlah salah, sangat bodoh, begitu bukan? Hampir semua orang berpikiran seperti itu. Aku tidak ingin mengatakan bahwa membunuh diri sendiri itu tidak salah dan tidak bodoh. Sungguh aku tidak suka berkata seperti itu. Namun aku sangat ingin menegaskan bahwa lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap kondisi psikis seseorang. Cara seseorang mengambil keputusan, menentukan arah kehidupan, mencari dan membentuk jati diri, itu semua sangat dipengaruhi oleh lingkungan, baik itu lingkungan keluarga, pertemanan, atau sekitar tempat tinggal.
Jika seseorang memilih untuk terjun dari lantai 13 atau menggantung dirinya di balkon bahkan menyayat nadinya dengan begitu sakitnya, tidakkah terbayang betapa kejamnya lingkungan tempat dia bernaung, tidakkah terpikir apa yang salah dengan lingkungannya. Mengapa yang disebut bodoh hanya dia yang dengan pilu dan penuh tekanan berani menghilangkan nyawanya sendiri. Dimana mereka yang berkata akan selalu ada, mendampingi, melindungi, mengarahkan dengan penuh cinta kasih sayang? Bahkan untuk mendengarkan saja telinga mereka mendadak hilang. Dimana mereka yang berkata akan terus memegang tangan, menepuk pundak, membantu untuk berdiri dan menciptakan sedikit senyuman? Bahkan mereka saling menginjak untuk menguatkan posisi. Dimana? Kau tahu dimana? Disana! Ditempatnya masing-masing. Ada yang sedang menangis karena merasa bersalah, ada yang sedang menghakimi, ada yang sedang tidak peduli, ada yang sedang berdoa, sampai ada yang berbisik-bisik bukan tentang kebaikan tapi kebusukan dan hujatan. Mereka disana dengan segala kesenangan hidupnya, pun dengan duka dalam hidupnya, tertawa, menangis, kecewa, mereka berbagi semuanya di media umum kaum milenialis. Apa mereka lupa ada yang sedang tertatih dan berdarah-darah untuk bertahan hidup? Apa tidak terlihat dari jendela rumah mereka ada yang melambaikan tangan meminta bahkan mengemis pertolongan, berharap ada yang menarik dari lumpur hitam sebelum benar-benar tenggelam. Ketika seseorang menyerah, mulut mereka tidak berhenti berbusa. Siapa yang bodoh? Siapa yang terlalu buta? Siapa yang tidak punya pikiran? Mereka pikir orang yang berTuhan tidak akan pernah membunuh dirinya sendiri, yang menyebabkan seseorang merasa tidak berguna, tidak dibutuhkan, dan terluka sangat dalam sehingga memutuskan mengakhiri hidupnya apakah itu juga disebut berTuhan?! Sungguh, terkadang lingkungan sangat menghina kondisi seseorang, mempermainkan dan mengolok-olok kehidupan, tanpa tanggung jawab, tanpa rasa iba, dan tentu saja tanpa ampun. Aku berani berkata itu lebih rendah dari dia yang membunuh dirinya.
  Aku sangat berduka untuk orang-orang yang memilih jalan kejam di akhir hidupnya. Apa poros kehidupan yang dimiliki setiap orang membuat ego yang juga dimilikinya semakin tinggi? Kehidupan apa ini?! Gemas sekali rasanya tapi memang begitulah kenyataanya. Ini perspektif. Ini pengalaman.
  Ku ucapkan juga hai sekelompok manusia, menjadikan bunuh diri sebagai lelucon untuk menarik perhatian orang adalah kejam yang kekanak-kanakan. Lebih bodoh dari keledai. Bermain-main dengan emosi orang lain, membuat orang lain tertekan sementara diri sendiri tertekan. Tertawa menang ketika melihat simpati datang. Licik. Ini semacam peringatan, untukku dan untukmu.

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.