Kembali lagi pada frasa dari hatiku, aku menyulam kata menjadi sebuah jalan. Tak kutemui caranya menyampaikan. Aku diam, duduk pada awan. Mengeja satu persatu apa yang ingin kutuang. Racun tertuang. Hatiku padam. Dilusi membunuhku dengan hati-hati dan pelan-pelan. Semacam berada dalam ruang tunggu, aku tidak bisa pergi. Hatiku tidak menang melawan insekuritas. Aku duduk pada awan, melihatmu berlalu lalang. Melihatnya, menarik kakiku. Melihat mereka, sedikit melirikku. Dari tempat aku duduk, aku cemburu pada duniamu. Pantas jika aku pijakkan kaki disana? Aku terlalu rendah diri untuk menyamakan kepalaku denganmu. Sulitnya melawan iblis dalam hati, andai kau lihat. Telingaku jatuh, mulutku busuk, apa lagi? Pergilah, tak kan kau temukan bahagia bersama aku yang melayang-layang, tidak pasti, tidak tetap. Kau lebih dari bunga dalam ceritaku, aku mencintaimu.
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.