Langsung ke konten utama

9.27

  Kembali lagi pada frasa dari hatiku, aku menyulam kata menjadi sebuah jalan. Tak kutemui caranya menyampaikan. Aku diam, duduk pada awan. Mengeja satu persatu apa yang ingin kutuang. Racun tertuang. Hatiku padam. Dilusi membunuhku dengan hati-hati dan pelan-pelan. Semacam berada dalam ruang tunggu, aku tidak bisa pergi. Hatiku tidak menang melawan insekuritas. Aku duduk pada awan, melihatmu berlalu lalang. Melihatnya, menarik kakiku. Melihat mereka, sedikit melirikku. Dari tempat aku duduk, aku cemburu pada duniamu. Pantas jika aku pijakkan kaki disana? Aku terlalu rendah diri untuk menyamakan kepalaku denganmu. Sulitnya melawan iblis dalam hati, andai kau lihat. Telingaku jatuh, mulutku busuk, apa lagi? Pergilah, tak kan kau temukan bahagia bersama aku yang melayang-layang, tidak pasti, tidak tetap. Kau lebih dari bunga dalam ceritaku, aku mencintaimu. 

Postingan populer dari blog ini

Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...