Langsung ke konten utama

Catatan 24 (Dear broken heart)

  Memindai benang yang tak terlihat, sia-sia tangan tertusuk. Kemarin, hari ini, dan seterusnya kau sengaja mengecat mawar menjadi hitam. Walaupun hujan melunturkan hitam, tetap gelap tak kau singkap. Semua itu mudah ketika hatimu rela. Tidak akan kau tertawa bersama duka, tidak akan aku melihat tinta hitam di wajahmu. Tentang hati yang patah, bukan milikmu saja yang patah, rusak, hancur tak bersisa. Semua hati kehilangan bentuknya. Dengan hatimu yang belum bisa memutuskan tali masa lalu, kau akan tercabik-cabik. Itu menggonggong kedamaianmu. Aku mohon, lepaskan! Kekangnya masih pada hatimu. Biarkan masa lalu pergi bersama air mata yang sudah mengering. Buang saja kain itu, benangnya sangat kusut, tak beraturan. Mengapa kau memelihara anjing di hatimu?
  Aku tidak pergi meninggalkan kain di dapurmu. Aku hanya singgah sebentar disini, menjauh dari tusuk-tusuk jarum. Aku tidak bermaksud menyembuhkan luka di badanku, aku hanya tak sanggup mengucapkan luka di depan wajahmu. Aku selalu mencintaimu, apapun dan bagaimanapun. Aku tidak sanggup lagi melihat kau membodohi diri dengan berpura-pura lupa. Seharusnya kau kirim aku benang baru, yang lebih panjang dan indah. Aku buatkan kain dengan banyak bunga dan warna, tak ada gelap lagi, kau bisa melihat bagaimana indah cintaku untukmu.

Postingan populer dari blog ini

Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...