Bertahan dengan pedang pada dadaku aku hampir lenyap. Aku bersandar barang sebentar pada awan hitam berbau busuk. Sangat tersiksa. Satu per satu kenangan muncul, kenangan silam yang kelam, yang mengantarku sampai pada titik ini. Aku bertanya, untuk inikah Tuhan mencipta? Tak aku mengerti sama sekali. Aku mulai mengandai-andai bila begini bila begitu, tenggelam pada masa kehancuran di ceruk-ceruk pikiran. Suatu pengandaian yang membawaku pada penyesalan tak berujung. Mulai kutemui cacad pada diriku, mulai muncul keinginan merontokan kulitku. Aku malu, aku tidak bisa,semua ini sangat menyiksa, rasa dimana aku menjadi orang yang paling salah. Aku dipegang carut marut pikiran. Aku berantakan. Puing masa lalu bersama baunya bersama kengeriannya, hangusnya, hitamnya, tersimpan baik dalam saku celana. Aku bawa kemana-mana busuknya tak sadar aku tetap menggenggam duri. Kubuka selimutku tapi masih terasa sesak. Kabut hitam masa lalu tidak menyingkap. Aku lihat satu titik didepanku, namun mata telinga terjatuh dan membusuk. Tidak mengetahui, tidak memahami, tidak ada niat untuk beranjak dari lantai, darah menggenang. Aku diam, duduk pada arang, hitam legam segalanya. Meratap pun aku tidak mampu. Aku tidak tahu arah. Kemana harus kubawa tubuh yang berdarah-darah. Aku diam, bersembunyi dari mulut-mulut kejam. Bersembunyi dari ketidakadilan yang kejam, kehidupan jahanam, selama bertahun-tahun. Biarkan diri ini tenggelam dalam buai sengsara. Nasib dan takdir adalah dua hal yang harus diimani. Iyakah aku menolak karunia Tuhan? Sayang, keberanianku ditebas ansietas, tegas, lugas.
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.