Langsung ke konten utama

Catatan 27

  Menaiki bianglala raksasa sambil ketakutan gemetaran di setiap putarannya, seperti itu kira-kira aku menyusuri waktu. Sampai pada titik ini, yang tidak pernah diterka sebelumnya. Waktu sudah menunjukan bengisnya juga baiknya. Saat ini, sudah tak ada pedang menancap di jantungku bapa, juga tidak di jantungmu. Tuhan menyuruhku berhenti menyebutmu dalam catatan pilu. Tiada lagi yang harus disesali, bahwa kau merasa bersalah begitu dalam pada orang-orang tercintamu. Kau sudah selesai membayar semua, sudah tuntas. Tidak ada lagi bapa, perih hati dan beban yang kau tanggung-tanggung, Tuhan sudah menerbangkannya bersama asa menuju langit. Tuhan mencintaimuLebih dari aku membutuhkanmu. Aku, sudah turun dari bianglala, aku tidak akan menikmati getar rasa takut lagi. Aku akan berjalan walau bertabrakan, aku siap menjadi pengganti letihmu. Biar aku yang lelah, sepertimu, bertebaran tanpa henti berdiri diatas rasa tanggung jawab. Aku, putrimu, mewarisi matamu, aku akan berjalan bapa. Aku akan berperang melawan iblis hitam dalam diri ini. Aku, putri tercintamu, mewarasi diammu, aku terbang bapa, perlahan-lahan. Dengan menyebut nama Tuhan aku mulai menebar, berharap Sang Yang Widi melindungi aku yang penuh sendu. 
  Melangkahkan kaki setelah bertahun-tahun diam di sudut kedinginan, betapa kakiku rasanya ingin patah. Aku mulai melihat dunia luar dan melawan ketakutanku, sekuat tenaga, setinggi-tingginya aku berharap Tuhan menuntunku, aku merangkak di negeri orang bapa. Terakhir kali, kita duduk di motor, kau bilang jangan kurang minum sambil menyodorkan sebotol air, kita lihat gunung dan pemandangan indah itu dari halaman villa, aku menatap punggungmu, rasanya tidak dikira kau akan kembali pada Yang Maha Memiliki. Aku ridha, biarlah, ini takdir yang harus aku imani. Biarlah, ini takdir yang membawamu pada keabadian, semoga selalu tercurah kebahagiaan. Waktu membawa puan sampai di tempat ini, dengan kuasa Tuhan waktu memberikan sedikit kesempatan untuk puan bernafas lebih panjang, untuk adik-adik, mama, dan kakak-kakak. Puan tegar dirundung awan hitam, puan kekar menyingkap tabir hitam. Wahai bapa, maafkan aku yang selalu meng-atasnamakan kau dalam puisi derita, kau mengerti betapa kau adalah cinta sejatiku di dunia ini. Semoga kau mendapat tempat terbaik, juga kau adalah lebih baik dari penyair manapun, terbaik. 
  Kembali, aku menyusur waktu pada porosku, aku menikmati perjalanannya, hanya mungkin tingggal sedikit duri-duri kecil masih menancap. Kepergian membuat hatiku lebih lapang menerima kenyataan, lebih tulus menjalani hidup. Ada dan tiadamu tetap membawa kekaguman terhadap hikmah. Terima kasih cinta, aku masih harus berjalan, sampai bertemu kembali. 

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.