Langsung ke konten utama

Tanpa Judul

Legam.. duduk pada arang
Hitam iman ditemui duka
Aku sakit, takut menemui sanak
Harap anggap aku istimewa
Kosong.. budak pikiran cacat kasih
Haru membiru di kamar dingin
Teman sakit, takut menggenggam angan
Kau sungguh tak istimewa
Sesungguhnya, nilai dan ukuran hidup,
tidak ada pada banyaknya derita
Omong kosong istimewa, kita semua sama
Sering salah memilih jalan & tanggung jawab
Derita diri yang tersiksa,
bukanlah syarat mengasihi makhluk
Kita sama, belajar cinta
Tunduk! Meski putihmu tinggal setitik
Mari sederhanakan harap
Tetap sakit, senyum kita mengobatinya
Ikhlas jiwa kita menerimanya
Masih hitam, tapi tidak takut cahaya
Aku melangkah memulai semua
Perlahan, kasih sudah bukan kasat
Semoga semua makhluk berbahagia

Postingan populer dari blog ini

Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lotšŸ¤

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...