Akhir-akhir ini, malam hari sulit sekali terlelap. Semalam, aku bersama perempuan tanpa nama berjalan melewati keindahan ciptaan Tuhan. Kami melewati hijau pegunungan dengan batu-batu besar entah apa namanya, berada dibagian bawahnya. Langit cerah sangat indah, kami mendecak kagum atas apa yang terlihat. Aku bilang, “aku harus kembali ke rumah untuk mengambil sesuatu”. Dia melihatku, seperti berkata “kenapa harus?”. Aku bergegas pergi ke lantai atas rumah yang penuh cahaya mengambil sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti itu apa. Niat ingin segera bergegas tapi saat kubuka pintu keluar, hendak menuruni tangga, semuanya gelap! Semua terlihat tua, usang, lapuk. Tangga yang tadi penuh cahaya berubah biru kehitam-hitaman. Aku lihat dari atas ruangan dibawah juga sangat gelap. Aku sangat takut menuruni tangga lapuk yang terasa sangat tinggi, aku tidak akan bisa. Aku berbalik arah menuju tangga yang satunya, dengan keyakinan bahwa aku harus keluar dengan selamat dan segera berlari kembali ke keindahan tadi. Aku turun dengan sangat hati-hati, masih merasa takut, namun tetap yakin. Ya, aku berhasil turun lalu berlari menuju sebuah padang rumput yang mulai menguning. Ada pohon yang sangat besar ditengah tepian salah satu sisi padang rumputnya. Aku berlari melewati itu sambil melihat langit yang sangat indah. Aku bertemu seorang perempuan dan seorang lelaki juga seekor harimau di belakangnya. Aku bilang, “ayo kita pergi”.
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.