Langsung ke konten utama

Catatan 33

 Hi mama sayangku cinta kasihku.. karena sudah kelahi bersama sulit dan memekik, karena leher hampir terjerat dicekik, aku bersama ketulusan mengucapkan terima kasih telah menjadi pembelaku. Aku dipeluk dina, saat kamu bilang cahaya. Aku dimainkan fana, saat kamu meninggalkan hina, duka lara. Itu dia disana, aku yang duduk kau tusuk pedang, aku diam, aku terima. Lidahku ini bisa lebih tajam dari pedangmu. Aku tidak ingin kamu terluka. Itu dia, yang sangat lapang menerima setiap warna dirimu. Itu dia, hatiku untukmu. Aku katakan waktu itu pergilah kesana, lihat seberapa besar cintaku. Lihat kita saat ini ada pada puncaknya, ternyata cintamu tumbuh jauh lebih besar. Terima kasih. 

Postingan populer dari blog ini

Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...