Hi mama sayangku cinta kasihku.. karena sudah kelahi bersama sulit dan memekik, karena leher hampir terjerat dicekik, aku bersama ketulusan mengucapkan terima kasih telah menjadi pembelaku. Aku dipeluk dina, saat kamu bilang cahaya. Aku dimainkan fana, saat kamu meninggalkan hina, duka lara. Itu dia disana, aku yang duduk kau tusuk pedang, aku diam, aku terima. Lidahku ini bisa lebih tajam dari pedangmu. Aku tidak ingin kamu terluka. Itu dia, yang sangat lapang menerima setiap warna dirimu. Itu dia, hatiku untukmu. Aku katakan waktu itu pergilah kesana, lihat seberapa besar cintaku. Lihat kita saat ini ada pada puncaknya, ternyata cintamu tumbuh jauh lebih besar. Terima kasih.
Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya. Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...