Hi mama sayangku cinta kasihku.. karena sudah kelahi bersama sulit dan memekik, karena leher hampir terjerat dicekik, aku bersama ketulusan mengucapkan terima kasih telah menjadi pembelaku. Aku dipeluk dina, saat kamu bilang cahaya. Aku dimainkan fana, saat kamu meninggalkan hina, duka lara. Itu dia disana, aku yang duduk kau tusuk pedang, aku diam, aku terima. Lidahku ini bisa lebih tajam dari pedangmu. Aku tidak ingin kamu terluka. Itu dia, yang sangat lapang menerima setiap warna dirimu. Itu dia, hatiku untukmu. Aku katakan waktu itu pergilah kesana, lihat seberapa besar cintaku. Lihat kita saat ini ada pada puncaknya, ternyata cintamu tumbuh jauh lebih besar. Terima kasih.
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.