Langsung ke konten utama

Catatan 39

Wahai Dzat yang Maha Hidup dan Maha Menguasai Kehidupan..

Sesungguhnya ketika Kau hilangkan satu orang dariku, tidak akan pernah sekalipun mengurangi penjagaan-Mu terhadapku. Sesungguhnya ketika kau hilangkan satu cinta yang membawaku pada keburukan, cinta dan kasih-Mu jauh lebih besar.

Maka ketika aku gantungkan segala harapan hanya kepada-Mu, ketika aku serahkan segala urusan pada ketetapan-Mu, aku berdo’a semoga Kau karuniakan ketenangan dalam qalbu. Tenang yang membawa jiwa, hati, dan raga untuk tunduk dan taat kepada-Mu, tenang yang membuat diri mudah untuk melakukan ibadah-ibadah, tenang yang membawaku pada kelapangan bahwa ketetapan telah selesai Engkau tetapkan Ya Allah Rabbul aalamin.

Tiada keraguan. Kau genggam hati dan tanganku, nafasku ada pada-Mu. Maka apa yang membuat hati ini terasa berat, jika sesungguhnya Engkau Rabb Yang Maha Adil dan Bijaksana. Pada waktu sore di hari Jum’at ini, aku yang tidak memiliki daya dan upaya, mengharap ridha-Mu. Semoga kau limpahkan rahmat, hidayah, dan taufiq. Tiada Rabb yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahuwataala.

Postingan populer dari blog ini

Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lotšŸ¤

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...