Langsung ke konten utama

Catatan 40

 Ketika ketetapan Allah sudah ditetapkan, tiadalah keraguan akan hal itu. Maka apa yang kamu takutkan?

Saat kamu bersuka cita karena mendapat laki-laki dambaan, aku ingin kamu mengetahui bahwa aku juga sangat bersuka cita karena kudapatkan hatiku kembali. Hati yang bertaut dan bergantung hanya pada Pencipta. Hati yang senantiasa meminta tolong kepada Allah agar menegakkan syariat, agar bisa khusyuk dalam shalat, agar senantiasa mencintai Al-qur'an dan sunnah. Hati yang sangat aku dambakan. 

Ketika Allah menghilangkan laki-laki itu dari hidupku, maka dengan seluruh keyakinanku  sesungguhnya Allah telah menghilangkan keburukan dari hidupku. Dengan karunia sebesar itu, adakah yang harus aku sesali?

Kita sama-sama bersuka cita. Yang lebih menyenangkan hatiku adalah aku sudah merasa tepat dalam memilih jalan, aku sangat damai. Semoga Allah senantiasa membingbing dan menuntunku. Semoga Allah tetapkan hatiku, untuk selalu ada dalam agama yang benar. 

Berbahagialah..

Postingan populer dari blog ini

Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...