Langsung ke konten utama

Catatan 44

Yang terhormat, luka. 

Wahai kau yang bersemayam di saku celana, aku atas nama pribadi mengucapkan terima kasih setulus yang pernah ada. Terima kasih telah menamparku tepat didalam hatiku, sehingga aku bertekad menjadi taat, kembali. Sekarang aku sudah lebih waras. Aku sudah bukan jalang dengan pedang menusuk ubun-ubun, aku wanita dengan diam sebagai perlindungan. Terima kasih hai kau yang menganga, aku tutup kau dengan tangan berdarah-darah, sudah.. sudah..

Aku terlalu berharga untuk kehadiranmu, silakan pergi atau tetap bersemayam. Namun hatiku bukan persemayaman, hatiku hidup justru untuk hal-hal menakjubkan yang kau bawa. Tidakkah itu membingungkan? Aku mengambil bunga yang indah dari peliknya penderitaan. Itulah, mengapa aku sangat menawan. Aku bukan bangkai yang menyisakan bau busuk, aku tidak berkarat. 

Kepada engkau, wahai luka melarat, aku sudah tidak terjerat, hanya do’a dan harap yang membumbung terpanjat. Semoga kau lekas tamat, tepat, sesaat setelah kau buat aku sekarat.

Salam 

Perempuan yang memeluk pedang.

 

Postingan populer dari blog ini

Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...