Langsung ke konten utama

Catatan 46 Kembali Pulang



 Duduklah aku pada gamang di kepala. Pada catatan ke 46 ini, kutulis perjalanan panjang untuk "pulang". Kenyataan bahwa aku lupa dari mana tempatku berasal dan akan kemana aku kembali adalah sakit yang luar biasa. Jika seseorang membaca catatanku dari awal yang berisi kepahitan, sungguh sebenar-benarnya kepahitan adalah dalam catatan-catatan yang tidak pernah aku tulis. 

Sembilu adalah ketika kepercayaan pada Sang Pencipta memuai begitu saja, hilang entah kemana. Sakit yang paling sakit adalah berharap pada manusia. Dari awal aku telah salah memilih jalan, aku kesampingkan segala KemulianNya hanya untuk kenikmatan sesaat. Ya Allah jika ada mahkluk yang lebih hina dari perempuan ini, maka kuyakin itu tidak berakal. Karena yang berakal tidak mungkin sehina diriku. 

Ya Allah, aku pulang

Tidak melibatkanMu dalam setiap urusan adalah kekecewaan. Menyusuri lorong gelap, dengan telapak berdarah, aku menginjak harga diri yang sudah terseret-seret berlumur kotoran. Ya Allah aku kembali pulang padaMu. Aku menyerah pada seluruh durhaka, aku menatap, aku meratap, aku ingin menjadi taat. Ternyata cinta yang selama ini kukenal hanyalah tipuan dunia, aku lupa mengenali cinta yang sangat besar dan mulia, cintaMu Ya Rabbi.. Aku tersungkur pada tempatku menundukan kepala. Ini adalah sujud terlamaku. Dariku yang sudah tak mampu mengucap kata-kata, dalam tangis yang tak mampu aku redam, "Ya Allah.. aku pulang padaMu. Pada Tuhan Yang Maha Hidup dan Maha mengurus Makhluk. Aku pulang padaMu yang menguasai hidup dan matiku. Ya Allah.. maukah Kau menerimaku kembali?" Rasa yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata, seperti perasaan yang selama ini terpendam membuncah lewat tangis. Semua keikhlasan, penerimaan, kebaikan, yang Kau ajarkan selama ini akan sia-sia jika aku tak mampu memahami bahwa sesungguhnya semua itu adalah modal untuk tujuan yang lebih mulia. Ridha dan Surga-Mu. 

Masih dalam tangis yang tak bisa kuredam, aku tenggelamkan diriku dalam munajat kepada Sang Maha Kasih. "Ya Allah, aku kembali. Maafkan aku yang tak mampu menyingkap tabir. Bahwa sesungguhnya Engkaulah segala poros hidup dan mati. Aku akan kembali padaMu."  Kubayangkan ketika itu Allah memelukku, dengan segala kasihNya, dengan segala cintaNya, bahkan padaku yang telah mengkhianatiNya berkali-kali, semakin deras air mata ini jatuh. Semakin sakit hati ini. Kaku mulutku berucap, " astaghfirullah.. astaghfirullah." 

Validasi manusia selama ini berpengaruh sekali pada alam bawah sadarku. Aku diam, namun hati berteriak meminta pengakuan. Segala kepahitan masa lalu seolah menjadi pembenaran ketika aku menuntut untuk dimengerti. Aku lah manusia paling sakit hatinya sejagad raya. Dengan sangat egois dan  angkuh tak ada duanya, aku pertanyakan ketidakadilan kepada Yang Maha Adil. Memiliki alur kehidupan yang berliku membuatku bertindak tanpa berpikir panjang, seolah itu adalah hutang yang harus aku bayar dengan hawa nafsu. Itulah mengapa aku mengibaratkan diriku seperti wanita yang memeluk pedang. Aku wanita yang memeluk luka. Sebenarnya pedang itu sudah tercabut, sudah tidak menghujam lagi, namun aku masih memeluknya, bersama darahku masih pada permukaannya, aku tenggelam dalam isi kepalaku. Aku wanita memeluk pedang, menjadikan itu senjata bertahan hidup namun bodohnya itu justru melukai diriku sendiri. 

Sampai pada titik temu antara aku dan hatiku, aku melihat diriku sudah sangat mengkhawatirkan. Aku lempar pedangnya, menyeka darah yang bercampur air mata. Sakit sekali, perih begitu menusuk. Aku memeluk diriku sendiri. "Sudah.. sudah.. akhirnya kita menemukan tujuan yang hilang itu. Allah. Mari pulang kepadaNya. Mari berjalan kearahNya. Ayo berdiri, perihnya pasti reda." 

Ketika aku berhasil menemukan hatiku kembali, maka saat itulah aku menemukan Allah dengan cinta dan kasihNya yang mulia, tiada cela, Allah yang denganNya aku berjalan menuju cahaya.

Untuk pertama kalinya dalam doa yang kupanjatkan aku sampaikan keinginan dan cita-citaku. Di keheningan malam, lirih ku sampaikan terima kasihku pada Sang Penjaga Hati. "Ya Allah aku memohon ampun kepada Engkau Yang Maha Bijaksana, aku ingin pulang dengan akhir yang baik, dengan husnul khatimah." Hanyutlah aku pada tangis yang membawaku pada kekhidmatan rasa syukur. 

Sungguh, apapun yang ada di sisiMu, selalu indah, mulia, dan tidak pernah keluar dari fitrah. Sungguh, siapapun yang ingin menuju kedamaian, segeralah "pulang" padaNya. Segeralah kembali pada syariat. Indah sekali wallahi, rasanya masyaallah tidak cukup dengan uraian kata.  

Dalam perjalan pulang ini, aku mengerti bahwa halang dan rintang tetap tidak akan menghilang. Maka aku sepenuhnya menyerahkan segalanya padaMu wahai Allah Pemilik seluruh Kerajaan. Tuntunlah aku menuju jalan ketaatan kepadamu. Berilah aku kemudahan untuk  istikamah di jalanMu yang lurus. 

Catatan ini berakhir disini. Berakhir dengan rasa syukur yang begitu mendalam terhadap kehadirat Al-Hakim. Terima kasih Ya Rabbi.. 

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

 Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.