Langsung ke konten utama

Catatan 47

Tidakkah sampai pada tuan, rasa sulitnya?  Menundukan pandangan bahkan saat anda tepat di depan mata. Pijar menyala-nyala, hanya nama tuan hampir membuncah dari dalam asa. Menundukan pandangan berarti menjaga hati untuk tidak melanglang buana. Namun dengan mudahnya tuan beramah  tamah, anda pikir terbuat dari apa tembok ini. Sudikah aku menggenang bersama dosa yang sama? Tentu tidak.


“Ingatkan aku YaAllah, bahwa segala keindahan yang tampak pada makhluk, tidak lain hanya setitik hiasan yang bisa kapan saja sirna. Ingatkan aku YaAllah, bahwa hanya kepada Engaku segala kekaguman tertuju, bahwa seluruh keindahan hanyalah milikMu.”


Wahai tuan dan nyonya, dariku, untuk nama yang tak berani kesebut.

Postingan populer dari blog ini

Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lotšŸ¤

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...