Langsung ke konten utama

Catatan 48

Memandang mata sayu pada cermin buram, kelopak menghitam pertanda kelelahan. Pencarian yang tiada akhirnya, kecuali kematian. Merasakan tubuh bergetar menahan sakit, panas tubuh yang diluar normal, hingga suara yang tak karuan. Ya Allah, semoga lelah ini menjadi lillah.. 

Banyak orang bertanya untuk apa aku melakukan semua ini? Tidak lain untuk membela keluarga, membayar rasa bersalah, memohon pahala dan berkah, juga yang paling mulia, demi menggapai husnul khatimah. Akan kukejar namun tak akan sampai melekat. Dunia sangatlah sementara. 

Ya Allah, aku tidak ingin tenggelam dalam pusaran dimana aku mengidamkan kehadiran sosok belahan jiwa. Engkau Maha mengetahui, Maha adil dan bijaksan, Ya Allah Engkau Maha teliti. Disaat seperti ini, sanagt mudah bagiku membayangkan sosok yang bisa menopangku, namun ingatkan aku Ya Allah bahwa satu-satunya tempatku bergantung hanyalah Engkau. Semoga rasa sakit ini dapat menjadi penggugur dosa. Semoga berkahMu tetap tercurah untukku, hambaMu, yang dikelilingi nista. 

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan. 
 Ini adalah barisan sarang yang juga merupakan Pabrik Manusia. Di kota ini aku adalah alat dalam dua arti. Pertama, aku harus belajar dengan giat untuk menjadi alat kerja. Kedua, aku harus beruasaha keras sebagai wanita untuk menjadi organ reproduksi demi kota ini.  Sepertinya, aku gagal dalam kedua arti itu.  Makhluk Bumi Sayaka Murata, p. 45