Langsung ke konten utama

Catatan 51 Syair Hamka dalam ungkapan cinta Hayati

 Untuk yang sedang kebingungan mengenai rasa dan pengungkapan, bunyinya seperti ini:
" Ya Ilahi, berilah perlindungan kepada hamba-Mu. Perasaan apakah ini, Ya Tuhanku, tunjukan Ya Tuhan, dan nyatalah sudah kelemahan diriku. Apalah pertolongan yang akan dapat kuberikan ... Aku hanya Tuhan takdirkan menjadi perempuan jenis yang lemah. Tidak ada kepandaianku hanyalah menangis! ... 
Jika cinta itu satu dosa, ampunilah dan maafkanlah. Hamba akan turut peritah-Mu, hamba tak akan melanggar larangan, tak akan menghentikan suruhan. Akan hamba simpan, biarlah orang lain tak tahu, tetapi izinkan hamba Ya Tuhan."
 Betapa hati ini jika dihadapkan pada cinta begitu terburu-buru melawan dan menolak. Selalu iman menjadi pembatas.  Namun sebagai anugrah yang mulia, cinta memiliki kepantasan untuk  dirasa, cinta harus ada dalam nadi kehidupan. Jika iman sebagai tameng, mari perhatikan ekspresi cinta-nya, bukan rasa cinta. Dalam syair yang ditulis Hamka, ada pengungkapan rasa dan kepasrahan dari seorang wanita yang mengadu kepada Rabb-Nya. Ketidakberdayaan ini tidak mungkin dilawan, maka Allah dzat yang maha mengurus mahluk yang dapat mengendalikannya. Itulah mengapa  Allah harus selalu dilibatkan dalam segala aspek, termasuk dalam pengungkapan cinta. Komitmen seorang hamba kepada pencipta-Nya bahwa dalam penghambaan, seluruh urusan diserahkan kepada Sang penunjuk jalan. 
 Pada akhirnya, izinkan mahluk ini untuk merasakan cinta dalam batas-batas yang telah ditentukan kepada seorang hamba. Jika sebelumnya saat kau ada di hadapan, pandangan ini kutundukan jauh ke dalam angan, namun apalah hatiku membuncah ingin berlarian diantara kedua matamu. Kini daku tak lagi melawan rasa. Pandangan dan hati ini, sedang belajar menunduk dalam satu waktu. Tak ada kemampuanku melakukan ini sendirian, maka laksana air yang mengalir, biarlah semua rasa menuju arah kau berada, tahu atau tidak,  dilihat atau tidak, sesungguhnya aku berpegang teguh pada aturan-aturan Tuhan dalam arus cinta ini. Cinta ini anugrah, maka akan aku rasa. Persis seperti perasaan dalam syair yang ditulis Hamka. Aku tidak akan melanggar aturan, aku mengetahui pagar-pagar yang harus tetap terkunci sebelum mengekspresikan cinta. Tiada lain yang ingin kukatakan adalah, apapun yang dirasa hati ini, yang menjadi poros dari segala yang ada pada hidup dan mati adalah Allah, cinta dan keterlibatan Tuhan adalah sesuatu yang pasti, yang berkesinambungan dan eksistensinya kekal. Akan selalu seperti itu.  
   Kemudian jika kau jeli dalam berpikir, inilah pengungkapan dariku.

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.