Langsung ke konten utama

Catatan 60 Hey, tunggu

Ingin pulang rasanya, ke negeri dimana semua yang ada adalah abadi. Bekalku sedikit, sedangkan perjalanan begitu panjang. Sayang sungguh sayang.


Pada perjalanan yang akan mengantarku menuju gerbang awal kehidupan yang sebenarnya, janganlah Kau buat hati ini terlena. Sungguh kesenangan disini hanya sekelébat mata. Malang sungguh malang.


Tak dinyana, aku bertemu dengan sungai yang sedang mengalir. Kukira alirannya sudah menjauhiku. Namun seperti aku pada keharusanku sekuat daya dan upaya dalam berprasangka, sepertinya, sejauh apapun air mengalir, tidak aka keliru ditakdirkan bermuara di lautan mana. Ingat, sejauh apapun, maka jarak mungkin tidak akan berarti, jika yang menuntunmu, membawa kau pada tinggi gelombang puan. Begitulah aku berbaik sangka kepada Allah, yang menciptakan langit bumi beserta seluruh yang ada padanya. 


Perjalanan panjangku untuk pulang, dihiasi setitik binar mata yang tak bisa menahan rasa. Saat itu aku bergetar tak kuasa melanjutkan langkah menuju anak tangga terakhir. Kau, akankah bertemu denganku di tempat pulang yang kita inginkan? Ataukah kau, akan bersamaku menuju tempat pulang yang kita inginkan? Akankah dirimu, menjemputku? 


 

Postingan populer dari blog ini

Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...