Langsung ke konten utama

Catatan 61 Tangga Darurat

Selamat malam, selamat bersembunyi.

  Sudah sampai mana dirimu? Bertemukah dengan muara kedamaian, meregup segala wujud harap? Atau mengulur waktu untuk bertemu kesempatan lain yang kau percaya itu adalah peruntungan. Dalam takdir, kelelahan sungguh sebuah hakikat, maka janganlah kau ragu pada hasilnya. Lama sekali tak mendengar puisimu, masihkah hidup sungai yang mengalir? Kemana dirimu mengalir? Bukan apa, aku tak sudi mendengar kabarmu meluap atau kabarmu bertemu muara, karena yang terjadi sebelumnya semua orang takut padaku, atau pada kita?

  Siapa yang lebih mengesankan? Dibunuhlah segala kasih dan ditinggalkannya segala kisah tepat diatas mejamu. Bukan untuk  tertawaan atau sebuah decak kagum, kau memahami apa yang aku perjuangkan. Kau dengan segala yang kau jaga, berteman peluh dan sakit, menerjang fana dalam keyakinan yang mulia. Mana yang lebih berkorban? Sungguh kita bertumbuh tangguh, betapa tidak mudah menjalin kisah yang syarat akan makna. Sepertinya aku belajar dari petapa, atau aku hanyalah perempuan dusta. 

  Dalam bentuk apapun, semoga indah lukisan hikmah menaungimu dalam tenang maupun gelisah. Sedang aku tetap harus meregup kesadaran. Kepalaku seringkali bepergian pada lembar yang sebenarnya sudah ditutup, aku tiup pada ujung telunjukku. Apakah tega diri mengenang dirimu? Percayalah dalam jiwanya, diam-diam ia penuh rela. Demi Tuhan ia mengenang sukarela! 

  Aku tetap pada rayu dan malu walau tertutup raut wajahku, apa yang bisa terjadi ketika kau bahkan dengan mudahnya mengenali. Harus darimana aku memulai kembali? Reruntuhannya saja tidak terlihat, padahal aku menerbangkan asa bersama panasnya suasana saat itu. Aku menempatkan diri pada titik nol kesadaran dan kembali bertanya, akankah kau melintas pada lautan yang penuh gemuruh? Semoga kau mengingat dan memilih. Semoga bertemu. Semoga bertemu.

  Bahkan aku masih saja menyimpanmu dalam bejana harap. Sudah sampai mana dirimu? Karena aku masih disana, di samping tangga tempatmu menuju. Aku tertawa geli melihat diri yang kelu dan tak tahu malu. Yang paling kuingat, pengabdianmu terhadap belahan jiwa yang begitu kau muliakan sangatlah patut dirayakan. Menyenangkan memiliki jiwa seperti yang ada padamu. Lagi-lagi, aku harus belajar dari petapa, atau aku memang tetap sebagai perempuan gila.

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.