Langsung ke konten utama

Catatan 65 Stairway to Heaven

  "Ini helmnya, pake mantel dik.. tambah lagi buahnya, lain kali kau beli tas, belilah yang jauh lebih besar, kau bawa lah apa yang ada." Beliau sibuk kesana kemari dari jam 3 subuh untuk mempersiapkan keberangkatan anaknya menuju tanah rantau. 
  Tak henti-hentinya beliau mendoakan kebaikan untukku, sambil bergetar suaranya. Sehari sebelumnya, "aku ingin ke makam." Beliau hanya mengucap, "pergilah". Sudah dapat ditebak, entah rasa sakit yang masih terus menerus mendera, atau ketakutan lain yang aku tak bisa meraba, beliau belum bisa melawan ketakutan untuk pergi ke makam bapak, suami tercinta nya.  Tercinta. Ya, begitulah. 
  Terkadang terdengar lirih suaranya merapal doa, Ya Illahi Rabbi.. saksikanlah Ya Allah. Aku saja tak kuasa, tak kuasa. 
  Aku pamit mencium tangan dan kedua pipinya di teras rumah, di kegelapan, dalam kedinginan, aku memohon restu untuk pergi melanjutkan hidup. Masih dengan suara bergetar bahkan kali ini suaranya tercekat, beliau berlinang air mata menyambut diriku. Segala do'a beliau ucap, semakin membuatku tertampar, aku pantas ditenggelamkan kedalam pusaran gelombang ketika aku mengingat bahwa aku pernah mengatasnamakan ia dalam puisi duka lara. Ya Allah, setetes air mata beliau yang jatuh bahkan masih berlinang, balaslah dengan syurga. Semoga dan semoga. She’s a slice of heaven. She's stairway to heaven. Tempatkanlah ia dalam kemuliaan. 
  Mah, aku tidak menanggungmu, Allah yang mahabaik menanggung kita dalam kuasaNya. Apapun yang terjadi akan kugenggam syariat ini sebagai bukti cinta kepada Allah dan baktiku kepada engkau, perempuan kuat yang terlambat aku sadari sayap hitamnya. Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Mah, sehat-sehat ya, semoga kelak Allah kumpulkan kita di JannahNya. Semoga Allah memberimu pengampunan, menyucikan engkau dari segala dosa, semoga Allah memberimu kedamaian pada qalbu dan cahaya taqwa pada jiwa. Semoga rahmat Allah senantiasa mengiringimu. Semoga panjang umurmu diiringi keberkahan. Semoga dan semoga. 
  Sampai di stasiun, aku perhatikan keadaan sekitar, meresapi setiap bentuk visual yang sebisa mungkin kurekam dalam jejak ingatan. Di tempat lahirku ini, tak tega aku mengatakan tentang banyaknya kemalangan yang mendera jiwa. Jika bisa kupinjamkan mesin waktu untuk kembali pada masa itu, aku yakin kau tidak akan sudi. Kakiku memijak tanah, kulihatnya baik-baik, lalu aku melihat ke arah langit yang menyinarkan cahaya jingga dan lautan biru berhias sabit, masyaAllah sungguh indah apa yang aku pandang. Namun pada saat bersamaan, aku menyadari bahwa tanah yang kupijak dan langit yang aku lihat, kelak hanya akan seperti mimpi. Aku akan mati, kemudian dihidupkan lagi, dan tak pernah mati lagi. Aku akan meninggalkan semua ini. Ketika kelak dihidupkan kembali, betapa indahnya bila kehidupan tersebut dihiasi beribu-ribu macam kenikmatan yang tiada pernah terbayang di dunia yang saat ini dipijak. Sambil menyeret koper, bergumam diri ini lirih “Yaa arhamarrahimin, aku tau ini akan selesai. Kelak semuanya akan selesai. Maka ketika aku pulang, pulangkan aku dengan sebaik-baiknya, pulang dengan penuh senyuman, menujuMu.”

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.