Langsung ke konten utama

Kutipan Fihi Ma Fihi Bab 8 bag 1

 


***

    Diceritakan suatu ketika ada lelaki dengan perawakan kecil yang lemah dan hina bagaikan burung kecil yang terkutuk. Bahkan, setiap pandangan buruk yang melihatnya selalu diiringi dengan rasa jijik dan disertai rasa syukur kepada Tuhan karena mereka tidak seburuk dia, meskipun sebelum melihat dia, mereka pernah mengeluhkan wajah mereka. Meski begitu, laki-laki itu selalu berbicara kasar dan seorang pembual besar. Dulu dia seorang anggota istana raja dan sikapnya menyakiti wazir kerajaan, namun sang wazir menelannya mentah-mentah. Hingga suatu hari sang wazir hilang kesabaran. Dia pun berteriak, “Hai, orang-orang istana! Aku memungut mahluk ini keluar dari selokan dan memberinya makan dengan memakan rotiku dan duduk di mejaku, serta menikmati kedermawanan dan kekayaanku, dan juga kekayaan leluhurku. Dengan begitu kini dia menjadi seseorang. Tapi, kini dia datang dan berbicara kepadaku dengan cara seperti ini!”


    Laki-laki itu berteriak di hadapan sang wazir, “Wahai orang-orang istana, para bangsawan, dan tulang punggung negara! Apa yang dia katakan itu benar. Aku sudah dipelihara oleh kekayaan dan kemurahan hatinya dan kekayaan yang berasal dari leluhurnya hingga aku tumbuh dewasa, hina, dan kasar seperti yang kalian lihat. Jika aku dibesarkan oleh roti dan kekayaan orang lain, tentunya penampilan, tata krama, dan nilaiku akan lebih baik dari ini. Dia memang memungutku keluar dari selokan, namin justru karena itu yang bisa aku katakan hanyalah ‘Oh, aku berharap menjadi debu’  (QS. an-Naba: 40). Jika orang lain memungutku keluar dari selokan, aku tidak akan jadi bahan tertawaan seperti ini”. 


    Seorang murid yang diberi makan oleh kekasih Allah memiliki jiwa sejati yang bersih. Tetapi, mereka yang dipelihara oleh tangan penipu ulung dan pembual, belajar dari mereka, menjadi seperti guru mereka, hina dan lemah, tak berdaya serta tidak mampu mengambil keputusan tentang apapun. Sebab mereka yang tidak beriman, pendukungnya adalah thagut. Mereka akan membawanya dari cahaya ke dalam kegelapan (QS. al-Baqarah: 257)


    Para nabi dan orang suci, dengan demikian, adalah “pengingat” atas keadaan masa lalu seseorang. Mereka tidak meletakkan sesuatu yang baru ke dalam hakikat seseorang. Sekarang, setiap air keruh yang mengenali air jernih itu akan berkata, “Aku berasal dari itu”, lalu bercampurlah dengannya. Tetapi, jika air keruh itu tidak mengenali air jernih yang mengingatkan asal mulanya dan berpikir berbeda debgan yang lain, dia akan menolak proses terjadinya kekeruhan, percampuran warna lain dalam dirinya, hingga dia tidak akan lagi bercampur debgan lautan yang mahaluas. Mereka bahkan menjadi lebih asing dari laut. 



Note: From Fihi Ma Fihi karya Maulana Jalaludin Rumi BAB 8 Hal 56-59 Terbitan MUEEZA, 2020

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.