Langsung ke konten utama

Bahaya Ghibah


 Bismillahirrahmanirrahim

Ini adalah summary dari kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafidzahullah pada bahasan kitab Tadzkiratussamii' Walmutakallim Fii Adabil 'Alim Wal Muta'alim mengenai bahaya ghibah dan tips menghindari ghibah (BAB 2 Fasal pertama poin No.9 Menyucikan Jiwa dan Raganya)

Adab penunutut ilmu salah satunya adalah senantiasa membersihkan hati dan batin dari hal-hal yang buruk. Seperti yang disebutkan dalam QS. Asy syams:9 

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

 " sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,"  

Hati yang bersih itu tempatnya ilmu bersemayam, karena itulah hati harus senantiasa dibersihkan, salah satunya dari perilaku ghibah. Sebagian besar ulama sepakat bahwa hukum ghibah adalah haram. Ghibah merupakan dosa besar dan pertaruhannya adalah ilmu.  Seseorang yang sudah menuntut ilmu dikhawatirkan tidak mendapatkan keberkahan dari ilmunya ketika dia msih mempraktekan perilaku ghibah. 

Disebutkan dalam HR Abu Hurairah, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ"Tahukah kamu, apa itu ghibah?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Kemudian Beliau bersabda, "(Ghibah yaitu) kamu membicarakan (menyebut-nyebut) saudaramu atas hal-hal yang tidak disukainya (dibencinya)."


Ditanyakan kepada Rasulullah, "Lalu bagaimana jika apa yang aku bicarakan itu memang benar ada pada diri saudaraku?" Rasulullah SAW berkata, "Jika apa yang kamu bicarakan itu memang ada pada diri saudaramu, maka kamu telah menggunjingnya. Dan jika yang kamu bicarakan itu tidak ada pada diri saudaramu, maka kamu telah berbuat kedustaan (kebohongan) terhadapnya." (HR Muslim)

Tiada cara menghindari ghibah selain DIAM. Apabila penuntut ilmu setelah ia mempelajari masalah demi masalah ilmu kemudain dia belajar membicarakan manusia, maka sungguh dia tidak akan beruntung. Seorang yang senang atau genar mencari aib pada diri orang lain maka kadar aib pada dirinya sesuai dengan aib yang dicarinya. 

Patut ditekankan kembali bahwa bahaya ghibah adalah hilangnya keberkahan ilmu pada dri seseorang, sehingga ilmu apapun yang ada padanya tidak membawa manfaat sama sekali untuk kehidupannya. 

Kemudian mengenai ilmu, ilmu akan bermanfaat atau mulia ketika diberikan hak-haknya. Seperti hal-hal lainnya, semua akan sempurna ketika diberikan hak-haknya. Kapanpun anda ingin memdapatkan keberkahan ilmu, sebelum menunaikan hak-haknya maka tidak akan berhasil( tidak bermanfaat). Ilmunya tidak akan merubah, tidak akan membuat diri menjadi tawadhu, dsb. Dari sini kita tahu betapa penyingnya kita membahas kitab2 ulama yang mengkaji ilmu. “Adab dulu baru ilmu”. Adab disini secara spesifik adalah adab ilmu yang dikaji dalam buku2 khusus. Namun ketika berhasil memahami dan mengamalkan, dampaknya terasa dalam setiap sendi kehidupan. Bukalah buku adabul ilm. 

Diantara adabul ilm adalah membersihkan hati kita. Karena ilmu itu tempatnya di hati. Diantaranya yang harus dihindari: hasad, kedzaliman, marah bukan karena Allah, mental curang, sombong, ingin dipuji orang, ujub terhadap apa yang dimiliki, sum'ah (gemar memperdengarkan atau memberitahukan amalannya), pelit, berbangga-bangga, berbuat sesuatu yang keji, berlomba-lomba terhadap dunia, berhias di hadapan manusia, dan suka dipuji terhadap sesuatu yang tidak kita punya, buta terhadap aib diri, cemas, dan ghibah. 

10 tips membersihkan diri dari bahaya ghibah:

1. Mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak amal shaleh. Menomorsatukan ridho Allah dibanding makhluk. Sibukkan diri dengan amal-amal shalih dalam waktu luang sekalipun. Faidzaa faraghta fansab (QS. Al- Insyirah: 7). Begitu selesai mengerjakan hal yang satu maka sambung dengan yang lain. Fa maksudnya jedanya sebentar. Barangsiapa yang memusuhi waliku, aku tangguhkan genderang perang dan Allah paling mencintai hal yang wajib, dan Allah akan cinta pula pada hamba yang mengerjakan amalan sunnah, dan apabila Allah telah mencintai seorang hamba, Allah akan menjaga pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki. (hadist qudsi HR Bukhari) Wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Inilah pentingnya, Allah menjaga pendengaran karena lisan berasal dari pendengaran. 

2. Menambah dan menguatkan iman dengan ilmu yang bermanfaat dan beramal shaleh. Rasulullah dalam HR Abu Daud mengatakan hai orang2 yang belum beriman, janganlah menggibah kaum muslim. 

3. Hobilah mengurusi aib sendiri, tidak mengurusi aib orang kecuali dalam rangka islah mereka. Seorang muslim itu fokus menghitung dan merenungkan nikmat-nikmat Allah dan fokus evaluasi kesalahan diri. 

4. Cari sahabat dan lingkungan yang shaleh dan shalehah, jauhi pihak-pihak yang buruk dan suka berghibah. Karena ghibah itu penyakit sosial, artinya ghibah itu butuh partner. Nabi SAW mengibaratkan orang yang bergaul dengan beriman seperti orang yang bergaul dengan tukang minyak wangi. 

5. Kita butuh dididik. Mendidik hidup dengan pendidikan yang islami, yang selamat dari konsep-konsep yang salah, konsep yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah. 

6. Ghibah itu tentang syahwat, sebagaimana orang yang berzinah, dia tau itu haram namun tetap dilakukan. Naudzubillahimindalik. Bertemulah dengan orang sesuai kebutuhan. 

7. Sifat qanaah. Merasa cukup dan merasa puas terhadap apa yang Allah beri. Ghibah itu berasal dari hati yang tidak suka dengan nikmat ornag lain, menginginkan nikmat yang ada pada orang lain. Bersyukurlah dan yakin bahwa yang disisi Allah lebih baik dan lebih kekal. 

8. Setiap kita harus punya skill menempatkat diri menjadi orang yang dighibahi itu. Sebelum membicarakan orang, pikirkan rasanya. 

9. Menahan amarah dan bersabar akan amarah. Salah satu penyebab ghibah adalah karena terpancing amarah. Hati-hati dengan amarah, kekecewaan, dan emosi. Minta perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan. 

10. Menjauh dari semua hal yang mendekat pada ghibah. Perkumpulan atau majlis yang mengarah kepada ghibah sebaiknya di jauhi atau dihindari. Ghibah ibarat memakai bangkai saudaranya sendiri, tegakah kita? 

Pada akhirnya, ini adalah tentang konsekuensi tauhid, jika kita percaya bahwa Allah mahamelihat dan mahamendengar  dan Ia mengetahui segala detail perbuatan kita, maka kita tidak akan berbuat macam-macam. Ini juga mengenai mengingat Allah SWT dalsm setiap sendi kehidupan, sibukkan diri mengingat Allah sampai tidak ada celah bagi diri untuk mengingat atau membicarakan orang lain. Wallahualam.

Demikian summary singkat dari kajian diatas, semoga Allah merahmati para ulama dan guru-guru kita yang telah menjembatani kita kepada ilmu. Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah pada kita untuk senantiasa mencari dan mengamalkan ilmu. Barakallahufiikum.


Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

 Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.