Langsung ke konten utama

Catatan 73 Brb

Berlari melawan waktu,

aku yang hanya bersama diriku berusaha berlomba dengan waktu dan usia. Sudah empat hari aku hanya bisa terbaring lemas tak sanggup sekedar mengambil air untuk hilangkan haus dahaga. Kepala ditimpa, tangan dan kaki seperti ditusuk-tusuk, demam yang tak kunjung turun. aku dikejar kewajiban harus menyelesaikan final test untuk semester ini, itupun mangkrak, tubuhku tidak menerima, dia ingin diam, terlentang, layaknya tak punya beban. Menjelang hari terakhir test, aku memohon dalam hati karena sekedar berbisik saja nafasku sesak tak karuan. Memohonlah diriku pada Dzat yang senantiasa memberi dan mengurus. Aku bilang, "Ya Rabbi, jika engkau berkenan kepadaku untuk menyelesaikan apa yang sedang aku kerjakan, mohon beri aku kekuatan untuk pergi kesana dan mengerjakannya sampai tuntas, namun bila sakit yang aku derita kau pandang baik bagiku, maka aku mohon jadikanlah wasilah untukku mendapat pengampunanMu, semoga ini menjadi penebus dosaku." Aku tutup mataku dan yakin. 

Malam berlalu, sepertiga malam aku bangun dengan keadaan yang masih melayang-layang, lebih baik dari hari kemarin, aku bersiap dan langsung berangkat sehabis subuh menuju tempat tujuan. Perjalanan selama 2,5 jam menggunakan kereta terasa sangat mudah. Setiap memasuki kereta, selalu tersedia kursi kosong, padahal kulihat kereta begitu sesak. Begitupun saat pulang, tak ada hal yang menyusahkan. Sungguh, aku merasa pertolongan Allah itu begitu dekat. 

Sampai di rumah, badanku seperti mengerti bahwa inilah saatnya untuk berdiam lagi, ambruk! benar-benar tanpa aba-aba. Apakah do'aku kurang teliti YaAllah? aku seperti orang tak punya asa tak punya jiwa, aku tidak tahu siang dan malam. Namun aku yakin bahwa jika Allah berkehendak akan sesuatu, maka tidak ada yang mampu menghalangi. YaRabb...

Bahkan tulisan ini dibuat dengan tangan gemetar, punggung seperti tak bertulang. Maklumlah diri ini hanya sendiri di perantauan, tak ada tempatku mengadu selain Tuhan dan tulisan. Ternyata, alangkah mengerikan berlari melawan waktu, sudah, sudah, jalan saja lagi. Jalan saja, sedikit demi sedikit. Tenang, tetap penuhi meja dengan obat yang tak kurasa pengaruhnya. Penyakit apakah ini YaAllah.. apakah rindu dan cinta? HALAH!  

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.