Langsung ke konten utama

Catatan 74 Pesan terakhir 2023



Membebaskan pikiran dengan literasi. Penjajahan pikiran adalah awal dan akhir dari sebuah belenggu, ada sebuah keyakinan jika umat muslim (khususnya) sudah melek literasi, mau membaca, dan hasrat pengetahuan yang menggebu dalam diri sudah tumbuh, maka kebebasan akan semakin mudah diregup. Kebebasan apa? Kebebasan dari kebodohan, kehinaan, dan keterbelakangan adab. Ini cakupannya bisa sangat luas. Semoga semakin hari semakin luas cara pandang dan kebijaksanaan umat mengenai hal-hal yang selama ini bahkan tidak dipertanyakan atau lebih tepatnya berhenti dipertanyakan. 


Ilmu mampu menjadi penerang, biidznillah ilmu  laksana lentera yang menerangi temaram. Cahaya nya lembut nan menenangkan. Muslim sendiri adalah generasi yang hidup dengan literasi, bahkan wahyu pertama dalam Al-qur’an adalah Iqra (bacalah). Islam adalah agama yang memfasilitasi itu, luar biasa sekali ketika ribuan tahun yang lalu Islam sudah muncul sebagai ajaran yang mengedepankan literasi. 


Sudah bukan waktunya lagi saling dzalim mendzalimi, hasad, dengki, adu domba, sudah sudah.. sudah ketinggalan jaman, sudah usang! Perangai-perangai yang buruk mencerminkan kurangnya pemahaman, kesadaran, dan keterbukaan diri terhadap syariat mulia yang Allah turunkan melalu malaikat kepada rasulNya. Perangai yang buruk juga mencerminkan betapa menderita nya hati yang terbelenggu. Salah satu pembebasan yang menjadi tugas awal umat adalah ini; liberation of mind, membebaskan pikiran dari hal-hal yang membelenggu ketaqwaan dan keimanan. 


Liberation of mind. Membebaskan pikiran dari berbagai belenggu adalah tugas berat umat di jaman ini. Dunia dengan kekangnya begitu sulit ditepis. Sadarkah bahwa peradaban telah dirusak dan dimanipulasi sedemikian rupa? Muslim dan muslimah sudah kehilangan jati dirinya, sudah lupa akan hakikat. Terlalu larut dalam permusuhan, kebencian, dan intoleran (oknum namun dalam jumlah yang masif). Kita tidak menyadari bahwa pikiran kita terjajah sehingga tidak ada upaya sedikitpun untuk terbebas. 


Bangun! Mau sampai kapan? Sedangkan peradaban terus melaju dengan sangat kencang. Sebuah upaya dapat dilakukan dari hal-hal kecil bahkan remeh temeh, seremeh membaca dan memahami tulisan organik dan non organik di tempat sampah. Semoga dimudahkan. Semoga tekadnya tumbuh dan tidak padam. Karena kekuatan karakter juga dibentuk salah satunya oleh apa yang dibaca dan dipahami sebagai rujukan. Sekali lagi, semoga dimudahkan. 


Liberation of mind untuk membangun state of mind. Jangan lemah, jadilah berani. Jadilah yang paling berani menuntun diri menuju titik puncak kewarasan dan jalan yang penuh cahaya. Wallahualam barakallahufiikum

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Kumbang pada Teratai

  Tidak ada teduh dimatanya, tidak juga kuncup atau rekah bunga-bunga pada taman jiwanya. Aku hempaskan sisa-sisa benih yang kering nan tidak jadi ditanam-pada hatiku, pada jiwaku. Tidak ada puisi dari mulutnya, tidak ada merona di pipinya, tidak nampak gairah yang semestinya ada dalam hidup seorang pujangga. Dalam situasi berandai-andai, mungkin ia menjadikanku perahu kertas. Seolah bisa berlayar padahal nihil. Sopan santun yang tinggi, jujurnya sikap dan lembutnya tutur adalah yang paling menarik hati —dan itu tidak nampak ada. Bilakah waktu memutar menuju dimana benih disemai, aku memilih untuk berhenti menyirami tanah dengan kebohongan, tuai saja kerontang dan nihil hasil karena itu lebih baik dibanding menumbuhkan benalu.  Burung-burung terperanjat kesana-kemari mencari teduhan, aku bertopang dagu menengadah langit kelabu, Tuhan biarlah aku tenggelam dalam nasib dan takdir yang telah selesai Engkau tulis. Tidak rela aku terjatuh pada lubang yang berkali-kali membangunkan ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.