Langsung ke konten utama

Catatan 75 Sudah itu saja

 



Menatap nanar pada relung tak berujung, seringkali manusia lupa pada hasanah dan hikmah takdir. Penghidupan yang layak diartikan berdimensi-dimensi, mampu menjadikan ia lupa pada hakikat sesungguhnya bahagia. Ampuni aku wahai Rabb, aku merasa aku istimewa padahal semua yang mengaku beriman adalah sama menerima ujian. Tidak ada pantas bagiku mengeluh dalam buaian nikmat. 


Sesulit apapun keadaan untuk dirangkai dalam aksara, tidak pernah mengaburkan makna yang ingin disampaikan Sang Pencipta. Pelik adalah satu hal yang dilupakan pada perjalanan dan seringkali dikutuk, padahal inilah pengharapan. Sebuah pengharapan segera terputusnya tali yang meregang. 


Tidak mengerti mengapa tubuh ini sangat lemah. Ah, sungguh benar, apalah daya makhluk yang satu ini. Sementara itu harus selalu kau ingat, sesakit-sakitnya tubuh, nikmat dari Rabb Maha Penyayang tidak pernah pudar. Ampuni aku Ya Rabb, ampuni aku..


رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ


حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan. 
 Ini adalah barisan sarang yang juga merupakan Pabrik Manusia. Di kota ini aku adalah alat dalam dua arti. Pertama, aku harus belajar dengan giat untuk menjadi alat kerja. Kedua, aku harus beruasaha keras sebagai wanita untuk menjadi organ reproduksi demi kota ini.  Sepertinya, aku gagal dalam kedua arti itu.  Makhluk Bumi Sayaka Murata, p. 45