Langsung ke konten utama

Catatan 78 Pada malam diiringi rintik

 Apalah daya diriku ini Ya Illahi


Selimut keangkuhan mulai terkikis diselingi ragu. Apakah aku memang sudah benar? Atau merasa benar? Apakah mereka yang mengalami fase yang sama berkata demikian? Menyikapi diri yang sudah lama menyembuhkan diri, terkadang keraguan tetap muncul pada satu titik. Apakah aku benar-benar sudah berubah? 


Ternyata, semua itu diusahakan. Lagi dan lagi, harus setiap saat kuingatkan diriku dalam cermin, aku tidak istimewa. Siapakah aku berhak menuntut untuk tidak bersakit-sakit? Sementara jelas mereka yang mengaku beriman pastilah merasakan ujian. Ampun seribu ampun, lagi-lagi aku menumbuhkan duri. 


Meski demikian, seperti apapun rusaknya puan di masa lalu, selama nafas masih berhembus teruslah berharap, teruslah mendekat walau tertatih. Teruslah bercermin pada apa yang terjadi, tanamkan pada taman jiwa bahwa selalu ada kebaikan dan hikmah di setiap ketetapan. Semoga Allah Ar-Rahman melapangkan, melembutkan, dan memampukan hati untuk senantiasa berprasangka baik kepadaNya, mampu melihat dan menerima kebaikan serta hikmah nan agung. 


Walaupun senyum telah lama kembali pulang, kali ini makna berubah menjadi lebih berbunga. Walaupun tangis senantiasa mengiringi, kali ini khidmat dan takzim yang ada padanya. Semua makna sudah berubah menjadi pensucian jiwa menuju perjalanan meraih taman-taman syurga. Tiada lebih daripada seorang perempuan yang memutuskan tali keangkuhan; perempuan yang menenggelamkan diri dalam usaha meraih syurgawi, sungguh tidak takut akan apa kecuali Tuhannya.


Ah, Illahi… jika ditulis dalam kata seperti ini, sungguh sangat indah apa yang Kau tetapkan. Biarlah aku seperti riak yang hanya terlihat sesekali di tengah danau yang tenang. Bila benar terdapat danau di jiwaku, biarlah hanya berdua bersamaMu, melalui munajat, bunga-bunga disekitarnya merekah. Betapa mulia urusan seorang Muslim. Namun tanya dan pengungkapan tetaplah ada pada; apalah daya perempuan ini, masih terus merangkai rumitnya benang pikir. Walaupun begitu, betapa sukar membendung rindu Ya Illahi… Betapa rindunya aku untuk pulang…

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan. 
 Ini adalah barisan sarang yang juga merupakan Pabrik Manusia. Di kota ini aku adalah alat dalam dua arti. Pertama, aku harus belajar dengan giat untuk menjadi alat kerja. Kedua, aku harus beruasaha keras sebagai wanita untuk menjadi organ reproduksi demi kota ini.  Sepertinya, aku gagal dalam kedua arti itu.  Makhluk Bumi Sayaka Murata, p. 45