Langsung ke konten utama

Call 2: Lanisa mengenai perempuan

 Karena seperti apapun perempuan mengepakan sayap dan terbang nun jauh, fitrahnya tetap mewajarkan bahwa ia adalah mahluk yang lemah dan selalu ingin dicintai. Perempuan senang bila medapat sebuah 'rumah' sebagai tempatnya berlindung dan mendapatkan kasih sayang. Perempuan senang sekali akan keindahan dan dipandang indah. Perempuan senang dengan semua kelembutan dan treatment yang menjunjung tinggi kemuliaan. Memang seperti itulah burung merpati yang terlihat jinak. Terlihat tenang namun berisik dan rumit. Terkadang perempuan saking rumitnya bahkan sulit mencerna perasaannya sendiri, sehingga tak jarang kami terlalu naif dan terlalu mudah menyandarkan diri pada sesuatu yang kami angap 'rumah'. 

Ini bisa menjadi awal mula prahara itu datang. Setan yang selalu menggoda dari hal yang paling remeh temeh banyak berperan mengobrak-abrik perasaan dan emosi. Disinilah perempuan diuji. Perempuan mempertaruhkan salah satu sisi diantara banyak sisi. Mana yang ingin dipertahankan? Kesadaran akan fitrahnya justru tidak selalu membawanya menuju jalan yang benar, terkadang muncul pembenaran bahwa dengan segala kebutuhan perempuan yang utamanya ingin diperhatikan, dilindungi, dan dicintai, maka perempuan butuh laki-laki untuk menjadi 'rumah'nya. Disinilah perempuan diuji lagi. Banyak puan yang menjatuhkan diri pada jalan yang menantang hukum Sang Maha Penentu. Pembenaran mengatasnamakan fitrah, pengabaian hukum syariat dengan alasan 'itu' adalah wajar pada masa ini, mengikuti lingkungan, menyeragamkan aksi dengan apa yang ia lihat dan dengar. Puan bergantung pada lelaki yang jelas adalah mahluk dan yang paling digaris bawahi adalah bukan mahramnya. Bahkan dalam pernikahan, tujuan tetaplah pada satu pelabuhan, yaitu Allah, meng-hamba kepada Allah Ketika tanpa sadar puan bersandar padasesuatu yang lemah, maka disinilah kami mempertaruhkan fitrah, kedigdayaan, dan akal sehat. Perempuan diuji dengan banyak hal yang berhubungan dengan perasaannya sendiri. Keliru ini dan itu, kecewa ini dan itu, bayang dan harapan seolah menjadi semu. 

Sekarang dapatkah tergambar mengapa perempuan harus belajar dan terus belajar? Ilmu dan iman adalah distraksi yang paling top tier untuk perempuan. Perempuan harus diarahkan dan dibimbing. Sebaik-baiknya pembimbing dan penuntun hanyalah Allah Rabbul 'alamin. Maka untuk sekadar mengenali diri dan seluruh perasaan yang ada padanya, perempuan harus mengenal Tuhan-nya, kembali pada-Nya, dan terus berusaha dekat dengan-Nya. Jika tidak, sungguh puan khawatir terjatuh dalam syarat yang tidak jelas dan gagasan-gagasan gila tentang diri beserta 'rumah' yang sebenarnya hanyalah bayangan semu. Menjadi perempuan mandiri bukan lagi tentang pencapaian dunia namun lebih kepada bagaimana mencegah diri tergerus pada kesalahpahaman diri terhadap fitrah perempuan. Yang mana sudah disebutkan bahwa dewasa ini banyak fenomena  perempuan menyandarkan diri pada lelaki yang bukan mahram-nya, ini adalah awal  kekeliruan yang melahirkan kekeliruan selanjutnya. Maka berdikarilah... berdikari untuk menegakan syariat, untuk tetap menjaga batas suci yang ditetapkan Allah sebagai bentuk kasih sayangNya terhadap perempuan. Kami berdikari tidak untuk menyaingi laki-laki, ini adalah sikap tegas penolakan sekaligus tindakan pencegahan terhadap tindak rendah seperti meminta-minta dan menyandarkan diri kepada mahluk mengatasnamakan cinta. Padahal mengenai cinta sudah lain lagi bahasan-nya. Sampai tiba saatnya Allah takdirkan laki-laki baik itu datang dan menjadikan perempuan dalam penanggungannya, terikat dalam ikatan suci dan dipersaksikan di hadapan Allah.

Itulah tegak berdiri di kaki sendiri. Kamu perjuangkan segala peluh, sakit, perih, jemu, dan luka untuk mempertahankan hidayah Allah dengan seperti itu. Apapun bentuknya, semoga Allah senantiasa ridho pada niat baik perempuan.

Perempuan, tegarlah, kita bisa melewati kehidupan dengan memegang apa yang sudah dimandatkan Tuhan, kita bisa menggengam kasih Allah dalam kepatuhan dan ketaatan yang tengah kita usahakan. Berbahagialah, perempuan senantiasa bak kelopak mawar yang bermekaran, tidak pantas baginya untuk bermuram durja sementara anugrah keindahan telah didapatkannya. 

Postingan populer dari blog ini

Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lotšŸ¤

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...