Langsung ke konten utama

Lama sekali Bap

Bap, sudah tidak bolehkah berkunjung dalam lelap? Sudah lama sekali aku lihat Bap mencari-cari sepatu dengan raut wajah yang mengisyaratkan "aku harus segera pergi". Bap, sejak hari itu, aku tidak sudi melihat sepatu Bap lagi. Bap, masih ingat dan akan selalu ingat bagaimana Bap mengajak berhenti di pinggiran sawah yang terhampar-hampar. Sekarang aku sudah banyak minum air putih Bap, sudah makan wortel juga. Bap aku sudah berani pergi sendiri, sudah berani meminta tolong, sudah berani ini dan itu. Bap, aku sudah punya uang, memang tidak banyak namun akhirnya mengerti perihnya dan jemunya mencari uang. Ahh, bisakah diganti dengan puisi manis sajakah semua itu... 

Mengenai semua ketidaktahuan diri akan sesuatu yang tersembunyi, biarlah itu hanya menjadi rahasia Illahi. Bap, aku tak menyangka bahwa apapun yang terjadi pada akhirnya aku sampai dititik dimana aku memanusiakan dirimu. Kau manusia biasa, hidup di dunia ini hanya sekali, dan ini adalah hidup pertamamu. Aku hanya ingin Bap mengetahui bahwa aku tidak memaklumi tapi memaafkan. Aku tidak menyangkal, aku menerima. 

Bap, aku terus membuat kesalahan. Rasanya tidak ada sesuatu yang aku kerjakan berakhir dengan benar. Tidak seperti Bap yang begitu terpukau saat melihat mendali perak yang kubawa waktu itu. Bahkan saat Bap tahu aku bisa membaca kalimat dalam bahasa Inggris, Bap sampai bertanya berkali-kali. Bap terima kasih banyak tas spongebob-nya, terima kasih sudah jauh-jauh datang hanya untuk memberikan itu, waktu itu aku lupa mengucapkan ini, semoga Allah sampaikan pada Bap. 

Bap, aku takut Bap berada di tempat yang gelap dan menyesakan. Bap, setitik iman di hatimu semoga menerangi jalanmu, membawamu ke tempat yang terang benderang, Allah temani Bap dalam kesendirian. 

Sampai jumpa di keabadian, Bap.

With love, adek.  

Postingan populer dari blog ini

Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lotšŸ¤

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...