Langsung ke konten utama

Tidak ada yang perlu di ujub-i

Tidak ada yang perlu dikagumi dari diri sendiri karena semua datang dan terjadi karena pertolongan Allah, bentuk kasih cintanya Allah.  Tidak ada pantas yang paling pantas bagi seorang hamba kecuali waspada. Waspada terhadap apapun yang ditemui dalam takdir, khawatir merasa terpukau pada apapun yang dicapai. Waspada dan percaya pada konsep ‘hanya kepada Allah aku hadapkan wajahku’. Termasuk ketika tidak dipilih; tidak dipilih untuk menjadi ini, untuk menjadi itu, untuk menjadi sesuatu, untuk menjadi seseorang, untuk menjadi satu, untuk menjadi seutuhnya. Termasuk ketika diri memilih; memilih jalan lain, memilih kata hatinya, memilih mencari, memilih berkelana, memilih menyelam terlebih dulu, memilih untuk tidak menjadi sesuatu. Memilih untuk tetap duduk dibalik batas. Tidak ada sesuatu yang terlewat dari takdir seseorang. Apapun yang terlewat itu bukan bagian dari takdir, tidak ada apapun kecuali kebaikan didalamnya. Tidak pantas diri merasa paling baik keadaannya karena sesungguhnya yang ada hanyalah hina. 


Hanya saja, berbisik- bisik ia. Begini katanya, dia kira engkau perbaiki dirimu, ternyata kau masih bermain lumpur. Sekarang ia semakin yakin untuk membiarkan kafilah berlalu. 

Postingan populer dari blog ini

Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...