Langsung ke konten utama

Tidak ada yang perlu di ujub-i

Tidak ada yang perlu dikagumi dari diri sendiri karena semua datang dan terjadi karena pertolongan Allah, bentuk kasih cintanya Allah.  Tidak ada pantas yang paling pantas bagi seorang hamba kecuali waspada. Waspada terhadap apapun yang ditemui dalam takdir, khawatir merasa terpukau pada apapun yang dicapai. Waspada dan percaya pada konsep ‘hanya kepada Allah aku hadapkan wajahku’. Termasuk ketika tidak dipilih; tidak dipilih untuk menjadi ini, untuk menjadi itu, untuk menjadi sesuatu, untuk menjadi seseorang, untuk menjadi satu, untuk menjadi seutuhnya. Termasuk ketika diri memilih; memilih jalan lain, memilih kata hatinya, memilih mencari, memilih berkelana, memilih menyelam terlebih dulu, memilih untuk tidak menjadi sesuatu. Memilih untuk tetap duduk dibalik batas. Tidak ada sesuatu yang terlewat dari takdir seseorang. Apapun yang terlewat itu bukan bagian dari takdir, tidak ada apapun kecuali kebaikan didalamnya. Tidak pantas diri merasa paling baik keadaannya karena sesungguhnya yang ada hanyalah hina. 


Hanya saja, berbisik- bisik ia. Begini katanya, dia kira engkau perbaiki dirimu, ternyata kau masih bermain lumpur. Sekarang ia semakin yakin untuk membiarkan kafilah berlalu. 

Postingan populer dari blog ini

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...

Dungu

  Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan. 
 Ini adalah barisan sarang yang juga merupakan Pabrik Manusia. Di kota ini aku adalah alat dalam dua arti. Pertama, aku harus belajar dengan giat untuk menjadi alat kerja. Kedua, aku harus beruasaha keras sebagai wanita untuk menjadi organ reproduksi demi kota ini.  Sepertinya, aku gagal dalam kedua arti itu.  Makhluk Bumi Sayaka Murata, p. 45