Langsung ke konten utama
Tidak ada tanda-tanda bunga akan mekar di sisi bejana, tak ada yang mampu mengubah takdir. 
Jika air telah menggenang, maka buatlah jalan untuknya mengalir. 
Tidak perlu malu untuk tersedu, hanya ada kita disini. 
Semua tak akan mampu mengubah cinta. 
Cinta yang disandarkan dengan benar tidak akan menemui kecewa walaupun lebur tak bersisa. 
Dia kembali utuh dalam bentuk yang lain, dengan cara yang lebih indah. 
Pertama-tama, bebaskanlah jiwa dari belenggu asa, 
sungguh itu adalah tipuan yang menyengsarakan diri. 
Kemudian berjalanlah, bahkan berlari jika kau mampu, berlarilah untuk mengejar cahaya. 
Aku mengerti bahwa pada kesempatan ini, 
jiwa diliputi oleh banyak kegelapan yang membawa sendu matamu. 
Kita sama-sama melepaskan diri dari kegelapan.
Sakitnya, kegelapanmu adalah aku. 
Mulai dari merasa diri tidak istimewa, akhirnya diri mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan.
Semoga tidak pernah lagi dalam taman jiwamu, dari lisanmu, kau tumbuhkan bunga yang kau sebut-sebut.
Sungguh semuanya hanya kepalsuan. 
Engkau mengetahui, pun diriku.
Jika tidak kau dipertemukan dengan manusia sepertiku, maka takdir beradu,  menyelamatkanmu.

Postingan populer dari blog ini

Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini.  Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍

Paradoks cinta dan kematian

Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya.  Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...