Ada yang pongah berjalan tegap menginjak hampa kelam nasib orang lain yang hanya dianggap debu dunia. Ada yang berusaha menjadi Tuhan dalam hidupnya. Maka jangan menyalahkan mereka yang memicingkan mata mendengar kata agama karena bagi mereka itu hanya sebatas dogma. Apa yang disampaikan orang berbaju agama hanya karena merasa diri lebih mengenal Tuhan adalah seburuk-buruknya salah paham terhadap dirinya sendiri. Rasa malu yang ditimbulkan karena kesalahpahaman tersebut sangatlah tinggi sampai membuat seseorang tidak sanggup menatap bayang di cermin. Apa yang disampaikan hanyalah belati tajam yang mengiris setiap aib, mengupas cangkang luka seolah diri hidup hanya untuk dipermalukan iblis jahanam. Siapapun itu; pemulung, pengamen, pramuria yang menjajakan tubuh agar anaknya bisa makan. Pencuri motor, remaja yang melumuri tubuh dengan cat perak, hingga mereka yang bergelut di terminal, semua berhak selamat dari dogma, stigma, dan prasangka. Namun itu hanyalah niscaya, sebab bagi mereka moral bukanlah suatu hal yang membuat mereka kenyang. Dalam agama memanglah apa yang dikerjakan sebagian dari mereka itu dzalim, daif, dan sebutlah tidak ada pantas. Namun mereka pantas dilihat dan diperlakukan sebagai manusia. Sebaik-baiknya mengerti adalah tidak memaksa siapapun untuk mengerti. Dosa dan ego bukanlah instrumen yang tepat untuk seseorang menentukan dosa manusia lain. Kita semua sama di hadapan Tuhan. Aku, hanya diberikan semangkuk lebih banyak keberuntungan karena aibku yang ditutup rapat. Ada yang menjadi Tuhan dalam hidupnya, sombong merasa mampu menanggung banyak beban, padahal sungguh tidak ada sedikitpun di pundaknya itu ia mampu memikulnya selain karena kebaikan dan kasih Tuhan.
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.