Bahkan di dunia berhampar penuh makna, ia masih belum mampu mencari makna dari pentingnya mengisi bejana yang kosong pada hati. Agar tidak mengemis kasih itu. Bodohnya, ia percaya pada hal yang merobek nilai sampai merelakan dirinya jatuh dan melebur. Diinjak-injaklah segala perawannya. Sangat menyakitkan, sangat menyedihkan. Bahkan kata imbang tidak pernah imbang. Tidak akan lagi ia membuka sedikit saja ruang di hatinya, sudah cukup berantakan. Mulai dari mana lagi ia? Mulai dari mana lagi aku?
Kau mulai meragukan kebenaran dan duduk diam dalam ketidakpastian. Begini ... kau sebelumnya merasa mungkin kekuatan yang kau raih saat ini adalah berkat kematian berkali-kali pada masa mudamu. Kau mulai seiring seirama dengan angan akan penyatuan cinta sejati antara dua jiwa yang terpisah. Mengidamkan, menerbangkan asa. Kau bergumam dalam do'a malam-malam kudus, "jodoh mana yang akan mendatangiku lebih dahulu? Jodoh kematian atau kekasih yang hilang?". Perlahan, kau menembus ruang dan waktu, menyelami pikir yang kau sadur dari berbagai arah. Kau hampir mati, lagi dan lagi. Kau lihat bangkai didepan matamu namun hanya air mata yang tertumpah. Itu bangkai! entah kau tidak menciumnya atau berpura-pura. Kau tetap berjalan dalam risau dan gelisah, dalam baik buruk yang kau punya. Coba pikirkan, ternyata kematian dan kekasih hati yang kau damba adalah cinta sejati yang saling bertaut. Mereka paradoks. Dia adalah kematian dan kematian adalah dia. Dia bisa menjadi penghidupan, ...