Bahkan di dunia berhampar penuh makna, ia masih belum mampu mencari makna dari pentingnya mengisi bejana yang kosong pada hati. Agar tidak mengemis kasih itu. Bodohnya, ia percaya pada hal yang merobek nilai sampai merelakan dirinya jatuh dan melebur. Diinjak-injaklah segala perawannya. Sangat menyakitkan, sangat menyedihkan. Bahkan kata imbang tidak pernah imbang. Tidak akan lagi ia membuka sedikit saja ruang di hatinya, sudah cukup berantakan. Mulai dari mana lagi ia? Mulai dari mana lagi aku?
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.