Siapa yang menyelami hidup siapa? Bagaimana bisa mengerti sudut pandang kalau telinga itu sebenarnya tidak ada. Berat terasa dalam hati namun keluh kesah itu tak terdengar. Menciptakan canggung tak berujung dan akhirnya kita bukan siapa-siapa. Dia bilang sikap yang ada sudah tidak relevan. Lupakan segala yang pernah terjadi di masa kecil tak berarti. Buta warna adalah duniaku. Duniamu berada diujung sana, berada jauh dari sini dan tidak buta untuk apapun.
Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini. Salam cinta untuk Bap, we miss you a lotš¤