Siapa yang menyelami hidup siapa? Bagaimana bisa mengerti sudut pandang kalau telinga itu sebenarnya tidak ada. Berat terasa dalam hati namun keluh kesah itu tak terdengar. Menciptakan canggung tak berujung dan akhirnya kita bukan siapa-siapa. Dia bilang sikap yang ada sudah tidak relevan. Lupakan segala yang pernah terjadi di masa kecil tak berarti. Buta warna adalah duniaku. Duniamu berada diujung sana, berada jauh dari sini dan tidak buta untuk apapun.
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.