Ternyata dia keliru tentang nikmatnya masa muda. Sekali mengotorinya, selamanya akan kotor. Karena kita hidup dalam masyarakat yang suka melihat pencitraan. Jika tidak ingin menanggung luka untuk apa kau jatuh cinta. Naif itu sering dikatakan bodoh. Padahal itu hanya jurus si polos tak berdosa. Bukannya tidak mengerti apa-apa, hanya saja melindungi kesuciannya. Muncul berbagai genre pergaulan di masa ini dan kau masih sulit menentukan sikap. Nikmatilah, nikmati masa konyol itu sebelum nanti tertampar karena sadar betapa tololnya cara hidup ini.
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.