Ternyata dia keliru tentang nikmatnya masa muda. Sekali mengotorinya, selamanya akan kotor. Karena kita hidup dalam masyarakat yang suka melihat pencitraan. Jika tidak ingin menanggung luka untuk apa kau jatuh cinta. Naif itu sering dikatakan bodoh. Padahal itu hanya jurus si polos tak berdosa. Bukannya tidak mengerti apa-apa, hanya saja melindungi kesuciannya. Muncul berbagai genre pergaulan di masa ini dan kau masih sulit menentukan sikap. Nikmatilah, nikmati masa konyol itu sebelum nanti tertampar karena sadar betapa tololnya cara hidup ini.
Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini. Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍