Keadilan itu nyata dan akan datang bersama kebahagiaan, yang aku percayai harus terus aku percayai, menggenggam keyakinan untuk selalu menerima dan bersabar sedangkan diri ini tergenggam tekanan hidup yang sangat kuat mencengkram. Harapanku, doaku, kemana perginya semua itu? Kikuk disudut kamar, hanya hawa dingin yang setia. Air mata tak terbendung. Aku merintih, mengemis pada diri kotor ini untuk tetap kuat, hapus air mata itu, dan berhentilah menangis. Itu adalah bagian tersulit. Karena mengemis pada diri sendiri lebih sulit dibanding kepada Sang Maha Kuasa. Akankah selalu seperti ini? Tidak adakah cahaya yang akan menghampiri, menuntun menuju sesuatu yang lebih lapang?
Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini. Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍