Keadilan itu nyata dan akan datang bersama kebahagiaan, yang aku percayai harus terus aku percayai, menggenggam keyakinan untuk selalu menerima dan bersabar sedangkan diri ini tergenggam tekanan hidup yang sangat kuat mencengkram. Harapanku, doaku, kemana perginya semua itu? Kikuk disudut kamar, hanya hawa dingin yang setia. Air mata tak terbendung. Aku merintih, mengemis pada diri kotor ini untuk tetap kuat, hapus air mata itu, dan berhentilah menangis. Itu adalah bagian tersulit. Karena mengemis pada diri sendiri lebih sulit dibanding kepada Sang Maha Kuasa. Akankah selalu seperti ini? Tidak adakah cahaya yang akan menghampiri, menuntun menuju sesuatu yang lebih lapang?
Ini adalah kejatuhan yang kesekian kali bagi dara. Berselimut jelita, ia bersembunyi dibalik diam. Kali ini terasa seribu kali lebih sakit, dia tidak tersisa. Adapun yang tersisa hanyalah erangan amarah dan penyesalan, tetap ia tidak mampu melawan manusia harimau dari dalam dirinya. Tuhan, tidak Kau matikan saja ia? Lagi dan lagi, mengapa harus ia meng-iyakan kehidupan? Tuhan, masih bisakah? masih pantaskah? Ini benar-benar hitam. Dara tidak makan dan tidur dengan benar semenjak hari itu. Senggama dengan duka, dina, hina! Dara menyalami segala yang dosa dan liar, dalam pandangan, dalam perasaan, dalam pendengearan. Bahkan tulang belulangnyapun tak bersisa, habis dimakan kedunguan.