Orang tua, tolonglah.. Tolong anak malang ini, tidakkah iba melihat hati yang tinggal satu jengkal? Menangis aku di sudut, bagaimana bisa iba, kau yang memotongnya, satu hasta, satu depa. Ingin mengucap yang ada tapi apa daya. Tak pantas ingusan bijak terhadap setengah baya. Namun seandainya kau lihat sedikit saja, tengok hati yang sebentar lagi berkarat. Bagaimana jika mati? Kembali ku menangis disudut, jika hatiku mati siapa peduli, tetap ia memaki. Sedikitpun tidak ia melihat sesuatu yang salah itu juga ada padanya. Tolonglah, tega engkau melihat aku mengemis pada diri sendiri? Haruskah juga padamu?
Bap, I lost again. Aku tidak bisa menemukan yang seperti kamu di dunia yang berhampar-hampar ini. Yang ada mereka lebih dari kamu, Bap— dan aku tidak bisa. Aku tidak bisa menyamakan pucuk pada pohon yang kami tanam. Aku takut, jika terus saja begini, rantingnya akan patah dan aku jatuh, lagi dan lagi. Ahh Bap… how’s heaven? Boleh aku ikut saja kesana di pangkuan Bap? Kami tidak membawa bunga Bap kemarin, kami membawa hati yang penuh seperti yang sudah-sudah. Aku merasa Bap sudah menunggu ya dari sana? Selamanya Bap akan hidup dalam hati kami, dalam do’a kami, dalam tulisan ini. Salam cinta untuk Bap, we miss you a lot🤍